Kunci Sukses Sri Mulyani: Tenang, Tegas dan Fokus

Sri Mulyani Indrawati salah satu putri terbaik Indonesia dalam kiprah internasional yang dikagumi dunia

Sri Mulyani Indrawati salah satu putri terbaik Indonesia dalam kiprah internasional yang dikagumi dunia

Diaspora Indonesia

Oleh Sri Mulyani

Saya diminta oleh Duta Besar Dino Djalal untuk menyumbangkan cerita mengenai pengalaman belajar dan hidup di Amerika, terutama untuk menjelaskan kunci sukses. Sebenarnya sungguh muskil menjelaskan apa itu kunci sukses dan bahkan mendefiniskan dan menentukan apa itu sukses bagi seseorang karena sifatnya yang sangat subyektif. Maka dalam tulisan ini saya tidak berpretensi untuk mengklaim dan menjelaskan mengengenai kesuksesan dan bagaimana bisa tercapai, namun saya hanya akan membagi cerita sebagian kecil dari hidup saya yang mungkin ada manfaatnya bagi para pembaca.

Saya di besarkan dalam sebuah keluarga besar, dalam artian ukuran yang sebenarnya. Bapak dan Ibu memiliki sepuluh putra-putri dan saya adalah putri ke tujuh. Jarak diantara sepuluh anak hanya sekitar setahun lebih sedikit. Artinya dalam kurun lebih satu dekade, hampir setiap tahun ibu saya hamil dan melahirkan. Meskipun pada tahun 1950an hinga 1960 an memiliki banyak anak adalah lumrah (normal), namun memiliki sepuluh anak tetap dianggap cukup banyak. Dalam masyarakat Indonesia (Jawa) pada jaman itu dipercaya bahwa banyak anak berarti banyak rejeki. Nilai semacam ini dapat dipahami dalam masyarakat agraris tradisional, dimana setiap anak merupakan tambahan tenaga kerja untuk mengerjakan sawah sehingga dapat menghasilkan panen lebih banyak.

Orang tua saya adalah dosen ilmu pendidikan di IKIP Semarang, dan mereka juga percaya bahwa memiliki banyak anak berarti juga dilimpahi banyak rejeki oleh Tuhan sang Pencipta. Setiap anak membawa rejeki masing-masing, demikian sering dikatakan oleh Ibu saya. Kepercayaan yang sangat optimistis terhadap masa depan dan terhadap kekuasaan Allah yang Maha Baik dan Maha Penyayang merupakan fondasi yang ditanamkan terus menerus oleh orang tua saya kepada anak-anaknya. Dengan berbuat baik pada sesama, orang tua saya percaya bahwa anak-anaknya yang banyak juga akan menerima kebaikan dari orang lain. Maka meskipun Bapak dan Ibu sudah memiliki banyak anak dan kondisi ekonomi keluarga juga pas-pasan, di rumah kami selalu ramai denga “ngengeran” yaitu saudara atau mahasiswa yang mondok menjadi anak asuh di rumah, sekaligus menolong merekan yang kurang mampu. Hidup di rumah yang tidak terlalu besar dengan jumlah penghuni hingga lima belasan orang tentu memerlukan sikap tenggang rasa, saling menghormati dan saling peka terhadap kepentingan masing-masing. Kondisi rumah menghindarkan kami dari sifat egoistis yang hanya mementingkan diri sendiri. Bapak dan Ibu mampu mengelola suasana rumah dengan baik dan cukup menyenangkan, rasanya tidak ada pertengkaran besar pernah terjadi kecuali pertengkaran kecil dan lumrah antar saudara. Suasana seperti itu membentuk kami menjadi manusia yang menghargai kekompakkan dan kebersatuan keluarga.

Sejak kecil orang tua saya memang mengajarkan bahwa sekolah adalah nomer satu atau prioritas utama. Ajaran tersebut juga diterapkan secara konsisten bagi diri mereka. Bayangkan bahwa ibu yang memiliki sepuluh anak, masih terus semangat meneruskan jenjang belajarnya hingga mencapai S3 atau jenjang Doktor di bidang pendidikan. Bapak juga meneruskan pendidikan ke luar negeri (Amerika Serikat- Syracuse – New York State). Orang tua saya setiap malam tekun menyiapkan bahan kuliah untuk muridnya dan bahkan mengerjakan penelitian. Rumah orang tua saya selalu ramai dengan anak-anak sendiri, anak asuh dan suasana pekerjaan akademis. Suasana keluarga juga diwarnai dengan kesenangan akan musik, menyanyi dan melukis. Orang tua saya bersama para dosen IKIP membuat berbagai kegiatan yang positif bagi anak-anak dosen, seperti les bahasa Inggris yang diajarkan oleh dosen bahasa Inggris, pelajaran melukis dan membatik yang diberikan oleh dosen seni rupa. Suasana obrolan diskusi keluarga di sekitar makan siang dan makan malam diisi dengan topik berbagai hal dari yang serius seperti politik, hingga lelucon sehari-hari. Setiap akhir kuartalan atau semesteran, merupakan episode yang mendebarkan, karena setiap anak akan menyerahkan raport sekolahnya. Saya ingat selama jenjang SD dan SMP saya tidak pernah mengalami juara kelas, sedang kakak- kakak dan adik saya hampir selalu juara kelas atau bahkan juara sekolah. Pada masa itu juara kelas dan juara sekolah biasanya mendapat hadiah yaitu bebas tidak membayar uang sekolah ( SPP- Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan). Saya sempat agak minder juga, karena dari sepuluh anak, rasanya saya merasa yang paling bodoh.

Meskipun orang tua saya sangat menekankan pentingnya pelajaran sekolah, namun kami anak-anaknya didorong untuk aktif di kegiatan ekstra kurikuler baik dalam organisasi pelajar seperti OSIS, kegiatan olah raga seperti basket, volley, bahkan atletik, dan karate, hiking, pramuka dan paskibra. Anak-anak juga didorong menekuni kesenian, baik dalam paduan suara, folk song group, dan melukis. Semua kegiatan tersebut membuat kami selalu sibuk, dan memang itu yang diinginkan oleh orang tua saya, yaitu agar anak-anak selalu aktif, sibuk, bergaul dengan kawan sekolah, namun dalam wadah kegiatan yang positif seperti olah raga, organisasi, dan kesenian. Kebiasaan aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi sangat membantu saya untuk membangun social skill dan berlatih melakukan tugas berbagai macam sekaligus (multi tasking). Kedua hal tersebut nantinya sangat berguna dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan.

Orang tua saya menekankan agar anak-anaknya harus masuk perguruan tinggi negeri, karena biaya pendidiman murah, masa pendidikan tidak lama dan kualitas pendidikan baik. Jurusan yang dianjurkan terutama jurusan kedokteran dan faktulas teknik. karena lulusannyan relatif dihargai masyarakat dan mudah mendapat pekerjaan. Oleh karena itu semasa SMA seluruh anak-anak hanya boleh masuk jurusan eksakta ( IPA), agar dapat pelajaran matematika dan statistik yang cukup untuk melatih cara berpikir yang logis. Ajaran Bapak dan Ibu yang menekankan pada cara berpikir logis, namun juga dilatih kepekaan terhadap keadaan/lingkungan dan menghormati pikiran orang lain sangat bermanfaat dalam perjalanan hidup saya terutama saat menghadapi masalah rumit, dan tantangan mengelola organisasi yang sangat beragam.

Masa kecil saya hingga selesai SMA dihabiskan di kota Semarang sebuah kota yang cukup besar namun tidak padat dan menegangkan seperti Jakarta. Semarang masih memiliki keakraban yang menyenangkan. Saya bersekolah naik sepeda hingga SMA, yang cukup menyenangkan karena suasana jalan Kali Sari yang nyaman dengan pohon-pohon asam tua yang sangat rimbun. Dengan bersepeda juga dapat dinikmati pemandangan gedung-gedung tua seperti “Lawang Sewu” dan gereja Katolik tua yang sangat indah dan anggun di seputar Tugu Muda. Naik sepeda ke sekolah agak dirasa “usang” waktu SMP dan SMA. Sekolah saya SMP Negeri I dan SMA Negeri III merupakan sekolah-sekolah terbaik di Semarang, dimana berkumpul anak-anak pandai dan atau kaya dari para pejabat tinggi (Gubernur, Panglima Militer, Kapolda, Walikota) maupun pengusaha besar di Jawa Tengah. Meski merasa agak minder bila sepeda saya melewati begitu banyak mobil-mobil bagus yang menjemput teman-teman yang kaya tersebut, namun hal tersebut tidak terlalu membebani. Saya tetap bergaul dengan mudah dan riang dan bahkan menjadi ketua OSIS di SMA, ikut kelompok basket, volley, dan paduan suara yang aktif bertanding antar sekolah. Lucunya dengan kesadaran akan kesehatan dan upaya mengurangin polusi, jaman sekarang naik sepeda menjadi gaya hidup yang modern dan sehat. Kalangan selebritas dan pejabat melakukan gerakan “bike to work” di Jakarta yang begitu sumpek dan padat. Di Washington DC, juga sangat banyak yang pergi bekerja dengan naik sepeda, termasuk karyawan Bank Dunia. Banyak sepeda diangkut dengan mobil dan kereta bawah tanah, untuk bisa dipakai tengah hari di kota. Jaman dan gaya hidup memang sering kembali berputar ke masa lalu. Saya menjadi teringat pernyataan ibu saya yang sering berujar dengan nasihat “ojo gumunan, ojo kagetan, ojo dumeh”, artinya jangan terlalu mudah heran, mudah kaget, dan jangan mentang-mentang.

Saya lulus SMA III Semarang pada tahun 1981 dengan predikat juara sekolah dari jurusan IPA, rasanya otak saya memang agak mulai encer sewaktu di SMA. Sebenarnya saya bisa diterima di IPB tanpa test atau bisa juga mendaftar Fakultas Kedokteran atau Jurusan Teknik agar menjadi Dokter atau Insinyur seperti harapan orang tua saya. Namun saya memutuskan memilih Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia. Orang tua saya heran dengan pilihan saya meski tidak melarang. Pada suatu percakapan, Ibu saya pernah menanyakan apa pekerjaan yang tersedia bagi lulusan fakultas ekonomi? Beliau tahu salah seorang istri kawannya yang bekerja di Bank, jadi beliau berasumsi saya nantinya akan menjadi pegawai bank, meskipun beliau tetap menyatakan bahwa pekerjaan sebagai dosen dianggap lebih baik di mata beliau. Saya memilih Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sebenarnya juga tidak paham dengan bidang tersebut dan tidak memikirkan nantinya mau menjadi apa. Saya diberitahu oleh sepupu saya bahwa banyak para Menteri mengajar di fakultas tersebut, dan itu dianggap sebagai sesuatu yang bergengsi dan berharga. Saya tidak terlalu memahami arti gengsi tersebut, karena buat saya yang lebih mencekam adalah bagaimana saya harus pindah ke Jakarta dan berpisah untuk pertama kalinya dengan orang tua saya. Saya dititipkan pada kakak saya yang saat itu sudah lulus Fakultas Kedokteran UI.

Ada kejadian menarik sewaktu saya di SMA, yaitu pada tahun 1979 ada kesempatan mendaftar untuk program AFS ( American Field Service ) yaitu program satu tahun ke Amerika Serikat untuk tinggal bersama keluarga Amerika, dan bersekolah SMA di sana. Saya ikut mendaftar, karena saya melihat salah seorang teman kakak saya pulang dari program AFS nampak sangat keren sekali karena sangat fasih berbicara bahasa Inggris dan menceritakan pengalaman sekolah di Amerika yang begitu menakjubkan. Saya lulus tes dan wawancara, dan menjadi kandidat yang paling kuat untuk berangkat. Namun saya gagal berangkat karena orang tua saya tidak mampu menyediakan uang untuk membayar sebagian biaya tiket berangkat ke Amerika Serikat. Orang tua saya menyatakan bahwa biaya ticket tersebut cukup besar untuk membayar uang kuliah dan uang pondokan dan biaya hidup tiga kakak saya yang sedang kuliah di ITB. Pergi ke luar negeri untuk satu tahun jelas bukan prioritas keluarga saat itu. Saya sangat sedih dan kecewa dengan “kegagalan” tersebut, meski orang tua saya menghibur dengan mengatakan bahwa pasti nanti ada kesempatan lain untuk pergi dan sekolah ke luar negeri/Amerika Serikat. Ternyata pernyataan orang tua saya tersebut terbukti benar, karena dalam perjalanan hidup saya selanjutnya saya berkesempatan bersekolah tidak hanya satu tahun seperti program AFS namun empat tahun untuk progran Master dan PhD degree, juga bahkan memiliki kesempatan bekerja dan hidup di Amerika Serikat bersama keluarga.

Fakultas Ekonomi dibagi menjadi tiga jurusan, yaitu jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan (ESP), Jurusan Management, dan Jurusan Akuntansi. Saya memilih jurusan ESP karena bidang studinya sangat menarik. Selain belajar mengenai ekonomi mikro dan makro yang ternyata sangat dekat dengan mempelajari tingkah laku kelompok masyarakat, baik sebagai konsumen, dan produsen ( Perusahaan), saya juga belajar mengenai kebijakan ekonomi di bidang fiskal ( anggaran pendapatan dan belanja negara) , moneter, dan perdagangan internasional. Yang menarik dari pelajaran ekonomi adalah menggunakan model baik secara sederhana melalui gambar grafik dan kurva hingga model yang canggih dan rumit secara matematis, juga digunakan data kuantitatif analisa statistik atau ekonometrik untuk menjelaskan tingkah laku pelaku ekonomi, dan membuat proyeksi atau perkiraan masa depan. Seluruh pelajaran ini saya rasakan merupakan kombinasi yang mengasyikkan antara menggunakan alat kuantitatif statistik dan matematika, dengan analisa tingkah laku (behavioral dan psikologis) dan ada sisi sosial, politik dan kultural yang sangat kental dalam setiap topik yang dibahas. Selama kuliah, saya sempat diajar oleh berbagai tokoh-tokoh penting atau terkenal di Republik Indonesia, seperti almarhum Prof Soemitro Djojohadikusumo, Prof Emil Salim, Prof Sadli (alm), Prof Saleh Afiff (alm), Prof Dorodjatun Kuntjorojakti, dll. Kehadiran para tokoh ini memberikan kaitan teori yang kita pelajari dengan dunia nyata. Dalam perkembangan studi selanjutnya kita juga makin disadarkan pentingnya unsur kelembagaan dan hukum dalam setiap pembahasan masalah ekonomi. Dengan demikian, belajar ekonomi menyebabkan saya terus terpacu untuk mempelajari berbagai hal yang sama sekali tidak sederhana dan mudah, namun sangat mengasyikkan. Mungkin karena saya sangat menikmati pelajaran ilmu ekonomi, saya tidak mengalami kesulitan dalam pelajaran, dan bahkan sebagian besar selalu mendapat nilai terbaik.

Mungkin karena cakupan yang sangat besar dan kompleks, jurusan ESP memang tidak terlalu banyak diminati. Pada masa saya belajar di FEUI, dari sekitar 300 mahasiswa setiap angkatan yang diterima di FEUI, hanya sekitar 20 orang yang tertarik mengambil jurusan ESP, dan sangat jarang perempuan masuk jurusan ini. Sebagian besar mahasiswa FEUI mengambil jurusan Akuntansi atau Manajemen. Jelas kedua jurusan tersebut lebih riel dan lapangan kerja yang tersedia untuk menampung lulusan Akuntansi dan Manajemen juga jauh lebih banyak terutama di perusahaan swasta atau BUMN. Lulusan ESP biasanya menjadi pengajar/dosen dan peneliti di Fakultas, atau menjadi pegawai negeri atau di Bank Sentral. Karena saya dulunya memang bercita-cita jadi guru, maka saya sudah menetapkan pilihan yaitu setelah lulus akan bekerja sebagai dosen dan peneliti. Orang tua saya sangat senang dengan pilihan karier tersebut, dan bahkan mendorong agar saya meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi.

Saya meraih posisi lulusan terbaik pada tahun wisuda 1986 dan oleh karenanya dipilih mewakili wisudawan/wisudawati FEUI untuk maju kedepan menerima ucapan selamat dari Rektor. Pada masa itu upacara wisuda sarjana Universitas Indonesia dilakukan secara serentak oleh seluruh fakultas di Balai Sidang Jakarta. Oleh karena itu setiap fakultas hanya diwakili oleh dua orang sarjana (laki dan perempuan) untuk menerima ucapan selamat dari rektor UI. Sayangnya sewaktu upacara wisuda tersebut, orang tua saya sedang menunaikan ibadah haji, sehingga beliau tidak sempat menghadirinya. Tentu saya kecewa, namun ibu saya menghibur bahwa doa orang tua dari tanah suci kepada anaknya jauh lebih berharga dari kehadiran fisik beliau. Ini salah satu keahlian ibu saya, yaitu selalu mampu melihat sesuatu dari sisi positip dan dengan penuh keyaninan, sehingga kami menjadi kuat dan tidak tenggelam dalam kesedihan atau kekecewaan dalam hidup. Dalam perjalanan hidup saya selanjutnya, seluruh wisuda-wisuda yang saya alami, tidak ada satupun yang bisa dihadiri oleh orang tua saya, baik sejak tingkat sarjana, di tingkat Master hingga di tingkat PhD– kebetulan wisuda Master dan PhD di Amerika Serikat yang tentunya sangat mahal bagi orang tua saya untuk bisa membiayai perjalanan. Pengalaman ini secara tidak langsung mungkin membentuk diri saya untuk lebih matang dan berani menghadapi berbagai hal secara mandiri dan tidak cengeng. Sejak kecil orang tua saya menanamkan sikap dan kepercayaan bahwa Tuhan selalu menjaga kita dimanapun kita berada, dan bahwa orang tua selalu ada “didekat” kita meskipun kita berjauhan dalam jarak geografis. Mereka menyatakan hanya dengan sholat, doa dan sabar yang tidak terputus maka kita selalu merasa dekat satu sama lain dalam keluarga, dan selalu akan mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT. Dengan putra-putri sepuluh dan menyebar di berbagai tempat sekolah dan tempat kerja dan keterbatasan dan mahalnya komunikasi dan transportasi pada masa itu, saya rasa orang tua saya hanya bisa menyerahkan nasib anak-anaknya kepada Sang Pencipta.

Untuk menyelesaikan Sarjana Ekonomi dan menulis skripsi, saya mengambil spesialisasi jurusan Uang dan Bank. Jurusan ini menarik, karena menjelaskan mengenai peranan uang, sistem keuangan dan bahkan mengenai tugas Bank Sentral dalam perekonomian. Saya bahkan menulis skripsi mengenai sejarah uang dan teori mengenai permintaan terhadap uang. Sekali lagi tulisan skripsi saya menyebabkan saya makin tertarik pada bidang sejarah, sosial, kebudayaan, dan bahkan mengenai teori tingkah laku dan motivasi. Sebelum saya lulus, saya sudah melamar untuk menjadi peneliti di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat ( LPEM) yang pada saat itu dipimpin oleh pak Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dan sekaligus sebagai asisten dosen di FEUI. Saya diterima sebagai asisten peneliti pada tahun 1986 persis sebelum lulus, dengan proyek penelitian pertama yang saya kerjakan adalah meneliti permintaan rumah di kota-kota besar di Indonesia- dengan ketua proyek penelitian adalah pak Darmin Nasution. PeneItian ini sangat mengasyikkan, selain kita harus merancang penelitian di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, juga harus menyusuan quesioner dan melakukan wawancara. Saya merasakan banyak sekali manfaat pelajaran sewaktu kuliah, namun juga terus mendapat ilmu baru. Di LPEM- FEUI saya sangat menikmati pekerjaan sebagai peneliti, dari mulai merancang dan merencanakan penelitian, manajemen waktu, hingga jumlah tenaga peneliti yang dipakai, melakukan penelitian lapangan, wawancara dan mengumpulkan data, melakukan analisa data, menulis loporan hingga melakukan presentasi hasil penelitian. Semangat dan “passion” yang muncul tersebut menjadi sumber energi yang besar dalam melakukan tugas dan pekerjaan. Hingga sekarang saya selalu percaya bahwa melakukan apapun dengan “passion” akan menjadikan saya tidak pernah merasa takut dan bimbang menghadapi masalah serumit dan sebesar apapun. Bekal ketenangan, ketegaran, passion dan kebiasaan berdoa dan sabar/pasrah pada takdir Allah SWT merupakan nilai yang diajarkan oleh orang tua saya dan menjadi fondasi yang saya gunakan dalam menjalani hidup yang begitu penuh tantangan nantinya.

Sewaktu menerima gaji pertama yang saya merasa mendadak begitu kaya raya, karena jumlahnya hampir duapuluh kali lipat uang saku saya selama mahasiswa. Saya juga untuk pertama kali merasakan naik pesawat terbang untuk melakukan penlitian di luar kota. Namun pada saat saya mulai menikmati pekerjaan penelitian di LPEM, FEUI menawarkan kesempatan untuk mengirimkan asisten dan dosen muda untuk menerukan jenjang pendidikan S2 dan S3 di luar negeri. Tawaran yang diberikan adalah program belajar ke Inggris dengan syarat harus lulus kursus bahasa Inggris di British Council Jakarta, dan tawaran belajar ke Amerika Serikat. Karena tawaran belajar ke Inggris datang lebih dulu, saya ikut mendaftar dan diterima untuk ikut kursus bahasa Inggris di British Council untuk kemudian melamar program Master ke Inggris. Saya sudah diterima program Master di University of Birmingham, namun tidak jadi diambil karena kemudian saya mendapat tawaran untuk sekolah ke Amerika Serikat.

Saya diterima di University of Illinois Urbana-Champaign (UI-UC) yang menawarkan program Master yang dapat dikombinasikan dengan program Doktor / PhD. Program ke Amerika Serikat juga menarik karena boleh membawa keluarga. Faktor keluarga sangat penting, karena saya pada saat itu sudah merencanakan untuk menikah dengan Tonny Sumartono, kakak kelas saya di FEUI jurusan Manajemen. Orang tua saya hanya mengijinkan kami menikah kalau kita bersama-sama berangkat ke luar negeri. Saya tidak diijinkan oleh orang tua saya untuk sekolah sendiri dan harus didampingi oleh suami. Menurut orang tua saya, kebersamaan dalam berkeluarga adalah keharusan dan tidak bisa ditawar-tawar. Meskipun Tonny sudah mulai bekerja di Bank, dia meminta cuti di luar tanggungan untuk bersama berangkat ke Amerika Serikat. Tonny mengambil program Master di bidang Manajemen Keuangan (Finance). Karena bea siswa hanya untuk saya, Tonny harus menjual mobil untuk membayar sekolahnya, dan kami berdua menguras semua tabungan untuk bisa membiayai hidup selama sekolah di Amerika Serikat.

Kuliah di program Master dan PhD saya cukup lancar karena meskipun pelajaran tingkat doktoral cukup rumit dan tidak gampang, saya menikmati pelajaran dan bacaan literatur yang harus dipelajari. Saya juga sangat menikmati suasana Campus library yang sangat besar dan menyenangkan yang tidak dapat kita temui di Indonesia. Meskipun pada awal 1980 FEUI punya gedung perpustakaan yang baru dan tergolong paling bagus di UI atau mungkin di Indonesia pada masa itu, namun koleksi buku dan jurnal sama sekali tidak sebanding dibandingkan perpustaan di Amerika Serikat. Kita bahkan bisa pinjam dari perpustakaan dari kampus-kampus lain atau perpustakaan pemerintah di seluruh Amerika Serikat dengan memesan melalui perpustakaan di kampus kita. Ini suatu fasilitas yang saya anggap begitu luar biasa. Tentunya kalau dibandingkan suasana hari ini dimana internet dan Google bisa membawa kita “berkelana” ke seluruh dunia melalui browser, dan akses terhadap informasi sudah demikian mudah, murah dan sangat hebat, maka fasilitas perpustakaan menjadi relatif tidak mencengangkan lagi.

Saya menyelesaikan kuliah Master dan PhD selama empat tahun, tergolong sangat cepat. Spesialisasi yang saya ambil adalah Public Finance dan Urban Economy. Disertasi saya mengenai Pajak Penghasilan ( Income Tax) membedakan antara pembayar pajak laki-laki dan perempuan. Dengan demikian dalam penelitian dan penulisan disertasi tersebut banyak mengandung elemen mengenai ekonomi ketenagakerjaan ( labor economic). Faktor cepatnya saya menyelesaikan program Master dan PhD dipicu oleh tabungan kami yang sudah nyaris habis, bea siswa saya hanya sampai menyelsaikan program Master, sehingga saya harus bekerja sebagai asisten dosen statistik untuk bisa membiayai hidup dan dibebaskan biaya kuliah. Saya juga sudah hamil dan melahirkan anak pertama di sana. Sungguh tahun ketiga dan keempat adalah masa terberat dalam perjuangan hidup saya dan keluarga, karena harus melakukan berbagai tugas sekaligus mengurus anak, bekerja sebagai asisten, dan menyelesaikan ujian preliminary dan mulai menyususn disertasi Doktor. Keuangan kami yang sangat minim membuat kami harus hidup sangat hemat, dan lebih banyak waktu dihabiskan di perpustakaan yang hangat dan nyaman sehingga dapat menghemat biaya listrik dan pemanas di apartemen. Saya melihat banyak mahasiswa Indonesia di Urbana Champaign yang dibiayai oleh Departemen Keuangan mendapat beasiswa tiga kali lipat dari saya, dan dari Bank Indonesia dan Bank BUMN bahkan mendapat beasiswa hingga lima atau enam kali lipat dari bea siswa saya. Mereka hidup sangat nyaman dengan keluarga dan selalu bisa berlibur dan tentu menabung. Sebagian besar mereka juga cenderung agak rileks dalam belajar sehingga nilai pelajarannya juga mencerminkan usaha tersebut. Hikmah keterbatasan keuangan membuat saya dipaksa membangun disiplin dan selalu membuat rencana detail terhadap berbagai aktifitas. Disiplin dan perencanaan detail tersebut sangat membantu saya dalam menjalankan karier selanjutnya.

Masyarakat Indonesia yang hidup di perantauan atau di Amerika Serikat memiliki suasana pergaulan yang cukup khas. Selama kehidupan sebagai mahasiswa, saya melihat ada kelompok yang senang berkumpul dan saling menolong secara luar biasa. Biasanya mereka saling bantu secara setia kawan pada saat kawan harus pindah, mencari apartemen/ tempat tinggal, menjemput atau mengantar ke airport, atau pada saat ada yang dirawat di rumah sakit. Pada saat saya melahirkan anak pertama, karena tidak ada orang tua atau mertua yang mendampingi, saya dan suami mengandalkan bantuan kawan-kawan, teermasuk “sesepuh” di Urbana-Champaign untuk membantu, termasuk mendapat kiriman masakan, mengungsi sewaktu terjadi winter-storm yang mengakibatkan padamnya listrik di apartmen kami.

Organisasi kemahasiswaan Indonesia di Amerika Serikat juga aktif membuat kegiatan pertandingan olah-raga, pameran masakan dan kesenian di Universitas, dan pengajian/ kegiatan keagamaan. Kegiatan tersebut sangat positif untuk memperkenalkan Indonesia baik di masyarakat setempat (warga kampus) juga untuk memelihara kecintaan dan kebanggaan terhadap Tanah Air. Mahasiswa Indonesia juga banyak yang sangat ulet, selain belajar juga mencari pekerjaan tambahan baik di dalam kampus maupun di luar biasanya untuk menambah tunjangan hidup atau bahkan untuk menabung dalam rangka persiapan pulang ke Indonesia untuk dapat membeli rumah atau keperluan investasi lainnya. Namun diantara masyarakat Indonesia di Amerika Serikat juga tidak lepas mengalami persaingan dan bahkan perpecahan kelompok. Ada saja alasan yang menjadi faktor pemecah, dari sentimen pribadi, hingga perbedaan pandangan mengenai cara mengelola organisasi. Sebenarnya perpecahan kelompok apalagi permusuhan sangat disayangkan, karena energi permusuhan seharusnya akan sangat baik bila disalurkan untuk hal yang positif. Membangun kepentingan bersama, saling mendukung dalam belajar dan bekerja, ikut bangga dengan pencapaian orang lain, berpikir positip dan terbuka terhadap ide-ide baru yang progresif, itu akan membuat masyarakat Indonesia menjadi besar dan disegani. Karena masyarakat Indonesia di Amerika Serikat jumlahnya relatif tidak banyak dibandingkan negara-negara Asia atau Latin Amerika lainnya, maka kekompakan dan persatuan akan menjadikan lebih kuat.

Suasana Amerika Serikat pada akhir tahun 1980an dan awal 1990an masih sangat terbuka, bebas, dan ramah terhadap semua mahasiswa dan masyarakat internasional. Kemudahan untuk mendapat visa sekolah maupun bekerja juga banyak membantu masyarakat Indonesia. Meskipun demikian, mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat sebagian besar dikenal selalu ingin kembali ke tanah air dan jarang yang ingin tetap tinggal dan bekerja di Amerika Serikat. Ini sangat berbeda dibandingkan mahasiswa dari Asia lainnya atau dari Amerika Latin dan Eropa. Semenjak terjadinya serangan terorisme pada tanggal 11 September 2001, kebijakan pemerintah Amerika Serikat dan suasana masyarakatnya mengalami perubahan sangat drastis, menjadi kaku, penuh kecurigaan, dan terlalu banyak lapisan birokrasi dan keamanan untuk semua urusan dari mulai mengurus visa, mengurus surat ijin mengemudi, hingga pemeriksaan imigrasi dan keamanan di lapangan udara. Sejak kejadian itu, suasana tinggal dan belajar di Amerika Serikat menjadi tidak nyaman. Kecurigaan atau permusuhan dan hilangnyan kepercayaan antar masyarakat, serta ancaman keamanan secara terus menerus memang merupakan suatu kanker ganas yang dapat menggagalkan pembangunan suatu bangsa. Saya melihat sendiri dalam pekerjaan saya di Bank Dunia saat ini, banyak negara-negara di dunia yang masuk dalam kategori konflik dan rapuh (fragile) ada sekitar 40 negara di dunia ini. Karena perang, konflik dan permusuhan, mereka gagal untuk memperbaiki kesejahteraan rakyatnya, dan justru mengalami kemerosotan kualitas hidup. Rakyatlah yang selalu menjadi korban pertama dan terlama dari peperangan tersebut.

Setelah saya menyelesaikan program Doktor di Urbana -Champaign, saya segera kembali ke Indonesia dan langsung diminta menjadi wakil direktur pendidikan dan latihan di LPEM. Tugas utama adalah mengelola dan menyelenggarakan kursus manajemen proyek dan perencanaan pembangunan bagi pegawai pemerintah daerah dan Bappeda. Tugas ini sangat menarik dan penting, karena kapasitas pemerintah daerah masih sangat perlu dibangun dan diperbaiki. Pada masa Orde Baru otonomi daerah dan desentralisasi sangat terbatas dan selektif, karena pemerintah pusat menganggap bahwa pemerintah daerah masih belum memiliki kapasistas dan kemampuan apabila delegasi kekuasaan dankewenangan diberikan secara penuh. Tentu argumen ini menimbulkan kontroversi yang tidak pernah putus seperti masalah debat mengenai yang mana duluan antara telur dan ayam. Pemerintah daerah akan menyatakan bahwa kemampuan dan kapasitas mereka tidak akan terbangun karena kewenangan tidak diberikan, namun pemerintah pusat menyatakan karena kemampuan belum memadai maka kewenangan tidak diberikan. Maka program pendidikan dan latihan menjadi kunci pemecahannya. Pekerjaan sebagai pengelola pendidikan dan latihan memberikan kesempatan pada saya untuk mengenal lebih rinci dan dalam kondisi dan sikap para pegawai di daerah. Banyak yang memiliki kapasitas akademis yang terbatas, namuh yang menjadi halangan kemajuan daerah bukan pada masalah akademis, namun sikap mental. Saya cukup sering menghadapi kasus pegawai pemerintah daerah yang dikirim untuk pendidikan dan latihan ke Jakarta, bukannya serius untuk belajar, namun digunakan kesempatan untuk rekreasi dan belanja saja. Meskipun demikian banyak pegawai daerah yang memiliki sikap yang luar biasa maju dan profesional. Mereka inilah yang biasanya menjadi juara di kelas pendidikan.

Saya dan keluarga pada saat terjadinya serangan 9/11 sedang bertempat tinggal di Atlanta ibu kota Georgia State. Saya bekerja sebagai konsultan US-AID yang memiliki program mengirim staf pengajar dari universitas-universitas negeri di Indonesia untuk belajar Master Program terutama di bidang Otonomi Daerah dan desentralisasi fiskal. Ada sekitar 30 murid dari UI, UGM, Universitas Brawijaya, Universitas Syah Kuala, Universitas Cendrawasih, dan Universitas Sam Ratulangi. Saya diminta menjadi dosen pembimbing dan pendamping, terutama bagi mahasiswa yang masih mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan beban hidup dan cara belajar di Amerika Serikat. Karena saya pernah mengalami sendiri bagaimana tantangan mengelola perubahan hidup dan beban belajar dari Indonesia ke Amerika Serikat, maka pengalaman tersebut dapat dibagikan dan diajarkan kepada para mahasiswa baru tersebut. Saya termasuk yang percaya bahwa menghadapi secara langsung pengalaman hidup di negara lain merupakan pembelajaran yang sangat berharga. Kita belajar menjadi bagian dari suatu masyarakat yang sama sekali berbeda dengan kita. Kita menjadi terbuka wawasannya, bisa mengenali dan memahami perbedaan kultur, nilai, bahasa, kebiasaan masyarakat yang berbeda dengan kita sendiri. Dengan pemahaman akan perbedaan tersebut, kita akan menjadi peka namun juga merasa pentingnya adanya tenggang rasa, toleransi, dan saling menghargai perbedaan tersebut.

Selama di Atlanta, selain membimbing mahasiswa dan melakukan riset mandiri, saya juga bergaul dengan masyarakat Indonesia di Atlanta. Ada sekelompok masyarakat yang sering mengundang mahasiswa Indonesia untuk makan atau berekrasi bersama di taman. Masyarakat Indonesia ini ternyata sebagian adalah mereka yang pindah dari Indonesia karena kerusuhan politik dan rasial yang terutama ditujukan pada kelompok etnis Cina pada saat jatuhnya pemerintah Soeharto tahun 1999. Hebatnya, meski mereka trauma terhadap kerusuhan tersebut, kecintaan mereka terhadap Indonesia tidak pernah luntur. Mereka bersemangat membantu para mahasiswa Indonesia di Atlanta secara tulus dan bersemangat, terutama untuk penyesuaian hidup, dengan memberitahukan dimana tempat belanja yang murah dan tempat membeli bumbu-bumbu Indonesia, meski mereka sama sekali tidak mengenal mereka. Contoh-contoh kecil ini menggambarkan bagaimana kekuatan masyarakat dan orang Indonesia, yang berpikir positif dan kecintaan terhadap tanah air yang tulus yang tidak perlu harus diwujudkan dengan tindakan-tindakan besar dan heroik, namun dengan sikap nyata keseharian yang konsisten dan mendekati hakiki.

Program USAID tersebut sesuai dengan tantangan Indonesia yang mengalami perubahan drastis sejak reformasi tahun 1998/99 yaitu dari sistem pemerintahan yang tadinya sentralistis, tertutup, dan cenderung otoriter, menjadi sistem yang demokratis, terbuka, dan terdesentralisasi secara penuh. Perubahan ini memunculkan tantangan nyata dalam bentuk kapasitas daerah yang masih terbatas sementara mereka sekarang memiliki kekuasaan dan kewenangan serta tanggung-jawab yang sangat besar dalam melayani masyarakat. Dengan mengirim staf pengajar dari Universitas daerah, maka diharapkan akan terjadi pembangunan kapasitas di daerah. Saya melihat sendiri bagaimana kualitas pengajar dari Universitas Daerah sangat beragam, sebagian besar masih harus dibangun dan diperbaiki. Ada pengajar muda dari daerah yang menceritakan bahwa bahkan buku teks untuk kuliah saja tidak ada. Dosen hanya mengajar dari buku catatan dan dengan kualitas pengajaran yang sangat tidak memadai. Maka tidak heran murid-murid lulusannya juga memiliki kapasitas yang terbatas, meski mereka bergelar Sarjana. Tentu dengan alokasi anggaran negara dua puluh persen di APBN untuk pendidikan dan penelitian saat ini, saya berharap fokus perbaikan kualitas dan pemerataan kualitas di semua daerah di Indonesia menjadi prioritas utama. Indonesia memiliki banyak generasi muda yang sangat cerdas dan berpotensi maju, namun apabila kualitas pendidikan di daerah tidak diperbaiki, maka potensi generasi muda kita akan menjadi sia-sia.

Pada tahun 2002, sewaktu saya sedang menjalankan pekerjaan di Atlanta tersebut, saya ditelpon oleh Menteri Keuangan Boediono untuk menerima tugas negara menjadi Direktur Eksekutif di IMF mewakili 12 negara di Asia Tenggara dan Pasifik. Surat keputusan Presiden Megawati sudah dikeluarkan, sehingga kami sekeluarga harus pindah dari Atlanta ke Washington DC. Pekerjaan sebagai Direktur Eksekutif di IMF secara manajerial tidak terlalu rumit, karena saya hanya membawahi sekitar sepuluh staf saja, namun dari berbagai negara Asia Tenggara dan Pasifik. Kerumitan muncul karena staf dari Malaysia dan Singapura waktu itu tidak cukup akur dengan staf dari Indonesia dan Pasifik lainya. Suasana tersebut segera dapat saya atasi dengan membangun sistem pertemuan yang bersifat kolegial, transparansi dan akuntabel. Juga adil dalam pembagian tugas, dan disiplin dalam menjaga kualitas. Tugas sebagai ED di IMF sangat menarik, karena kita mewakili pemilik (shareholders) IMF, yang berkewajiban membahas, mengarahkan dan menyetujui atau menolak program yang diajukan oleh manajemen dan staf IMF. Pada tahun 2002-2004 tersebut, krisis ekonomi Asia yang terjadi pada thaun 1998-2000 sudah teratasi, namun dampaknya mulai menjalar ke Amerika Latin dan Turkey dalam bentuk runtuhnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas dan sustainabilitas (ketahanan) ekonomi negara-negara tersebut. Kerapuhan terjadi baik di sektor keuangan, perdagangan internasional dan neraca pembayaran, eksposur hutang pemerintah, dan besarnya defisit anggaran. Saya melihat bagaimana Mexico, Brazil, Argentina dan Turkey yang mengalami krisis ekonomi harus melakukan kebijakan-kebijakan ekonomi yang berat untuk bisa memulihkan stabilitas dan ketahanan ekonominya. Suasana tersebut sama seperti kondisi Indonesia tahun 1998/99 dan sama seperti yang dialami Eropa Barat seperti Yunani, Spanyol, Italia, Irlandia, Portugal dan bahkan juga Perancis dalam skala yang berbeda pada saat ini.

Pada tahun 2004, saya dipanggil pulang ke Indonesia oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk bergabung menjadi menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu pertama. Saya mula-mula ditugaskan menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan dan Kepala Bappenas, dan setahun kemudian bergeser menjadi Menteri Keuangan, dan bahkan pada tahun terakhir harus merangkap sekaligus menjadi Menteri Korrdinator Bidang Perekonomian. Kondisi ekonomi dunia pada saat saya menjadi Menteri sungguh tidak mudah. Pada tahun 2006 Dunia mengalami tekanan karena harga minyak dunia melonjak sangat tinggi dan dalam waktu sangat singkat, dan ini menimbulkan krisis kepercayaan terhadap ketahanan ekonomi dan sustainabilitas APBN. Pemerintah harus melakukan tindakan cepat, tepat untuk memulihkan kepercayaan, menjaga momentum pertumbuhan dan melindungi rakyat yang paling miskin dan lemah posisi ekonominya.

Pada tahun 2008 perekonomian dunia mengalami guncangan berat akibat krisis sektor keuangan di Amerika Serikat dengan bangkrutnya lembaga keuangan Lehman Brothers yang menyeret seluruh dunia dalam suasana kepanikan dan krisis kepercayaan yang sangat mengguncang fundamental perekonomian global. Krisis 2008 mengharuskan pemimpin dari 20 negara dengan ekonomi terbesar dunia (G20) untuk berkumpul dan menyatukan langkah penanggulangan bersama. Trauma krisis ekonomin tahun 1998/99 sangat membayangi suasana pada tahun 2008 tersebut. Beban dan tanggung jawab sangat berat ada di pundak saya, karena posisi sebagai Menteri Keuangan dan sekaligus Menko Perekonomian sangat strategis dalam memimpin dan menentukan langkah-langkah menghadapi krisis ekonomi dunia. Hari-hari menghadapi krisis ekonomi dunia tersebut menjadi kawah ujian yang lengkap dan berat bagi saya, karena pada saat puncak guncangan krisis ekonomi dunia terjadi yang menyebabkan suasana ekonomi Indonesia ikut terguncang dengan merosotnya harga saham dan mata uang Rupiah dan mulai munculnya kepanikan pelaku ekonomi, kesehatan ibu saya merosot tajam dan akhirnya beliau meninggal dunia. Suasana persaingan politik dalam negeri menjelang Pemilu 2009 juga menambah rumitnya proses pembuatan kebijakan dan langkah-langkah penanggulangan krisis saat itu.

Bekal latihan hidup yang diberikan orang tua saya, dalam bentuk ketenangan, ketegaran, dan fokus pada tugas sangat membantu. Seluruh pengalaman penanganan krisis ekonomi Indonesia pada tahun 1998/99 dan pelajaran dari negara-negara Latin Amerika, Turkey, Rusia yang pernah mengalami krisis ekonomi memberikan manfaat yang berharga bagi saya untuk membuat keputusan yang antisipatif, akurat, dan tepat waktu. Saya berusaha untuk menjaga ekonomi Indonesia agar tidak jatuh dalam krisis ekonomi, karena bila sampai terjadi seperti tahun 1998/199 maka akan membuat rakyat Indonesia sangat sengsara dan stabilitas politik dan sosial juga akan ikut terhancurkan. Langkah-langkah kebijakan pencegahan dan peningkatan ketahanan ekonomi dilakukan secara penuh perhitungan yang akurat dan cepat, karena situasi bergejolak setiap hari. Indonesia berhasil melalui masa sulit tersebut dengan kondisi ekonomi yang relatif tidak terpengaruh dan bahkan masih dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, sementara hampir seluruh negara di dunia mengalami kontraksi. Rakyat terlindungi dari guncangan yang dapat merusak sendi ekonomi kita. Saya menyadari bahwa memang kita tidak pernah bisa memilih kapan waktu yang tepat dan enak untuk mengemban tugas negara dan tanggung jawab publik. Kita juga tidak pernah dapat memilih atau menghindar kapan tantangan besar datang menghampiri kita. Namun pada saat tantangan dan masalah itu datang, kita harus siap menghadapinya. Mengemban tugas dan tanggung jawab negara berarti kita mengemban kepercayaan dan kepentingan rakyat yang tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan apapun.

Saya pindah pekerjaan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia menjadi Managing Director World Bank. Pengunduran diri saya memang menjadi berita dunia, yang saya ambil hikmahnya bahwa apa yang saya lakukan untuk Republik Indonesia dalam membangun sistem keuangan negara dan pengelolaan ekonomi berlandaskan prinsip tata kelola yang baik, transparansi, akuntabel dan berpihaknada kepentingan rakyat banyak ternyata sangat diperhatikan oleh masyarakat kita sendiri dan juga oleh dunia. Langkah reformasi memang belum selesai dan tak akan pernah selesai, karena setiap langkah perbaikan pasti akan menimbulkan masalah baru yang harus diatasi. Reformasi sama seperti proses pembangunan sendiri adalah suatu proses yang berkelanjutan, dimana elemen untuk perbaikan sistem akan selalu dihadapkan pada tantangan dan resistensi dari mereka yang dirugikan. Reputasi dan pengalaman saya mengelola ekonomi Indonesia sangat membantu pekerjaan saya yang baru di Bank Dunia. Para klien, sharehorlders serta para staf Bank Dunia sangat menghargai pengalaman yang riel dan kongkrit dalam menghadapi pilihan-pilihan kebijakan dan masalah pembangunan yang tidak selalu mudah. Bahkan dalam melakukan komunikasi dengan para stake-holders yang lebih luas, pengalaman tersebut juga sangat memberikan kredibilitas yang meyakinkan. Cerita dan pengalaman Indonesia senantiasa menjadi referensi yang sangat penting dalam membahas persoalan dan membuat keputusan. Hal ini memposisikan Indonesia sebagai contoh yang sering membanggakan meski tentu sangat jauh dari sempurna. Namun dalam menangani masalah pembangunan, memang tidak pernah ada suatu contoh, situasi dan pilihan yang sempurna. Pembuat kebijakan sering dihadapkan pada pilihan yang tidak ideal sama sekali atau “the first best choice”, namun sering terpaksa harus mengambil keputusan yang kurang optimal atau “second or even third best options” . Dalam banyak hal bahkan para pembuat kebijakan sering harus menelan posisi kebijakan yang paling tidak buruk atau “the least worst”. Kondisi yang dihadapi negara-negara Eropa yang sedang terkena krisis saat ini adalah contoh nyata, antara memilih penyehatan anggaran dengan pengetatan (austerity) untuk membangun fondasi ekonomi yang baru dan pilihan mendorong pertumbuhan segera dan mengurangi beban masyarakat akibat krisis. Kewajiban para pembuat kebijakan dan pengelola kekuasaan adalah bagaimana menghindarkan negara dan perekonomian untuk terjerumus dalam situasi yang buruk, dimana kepercayaan runtuh dan ekonomi menuju krisis. Dan itu sering harus dilakukan dengan memerangi kelompok kepentingan yang sangat kuat dan berkuasa.

Belajar dari pengalaman negara sendiri maupun negara lain adalah sangat penting, sehingga Indonesia tidak perlu senantiasa terjerumus dalam kesalahan, kesulitan, dan krisis yang mengancam kesejahteraan rakyat. Pekerjaan di IMF, sebagai Menteri, dan sebagai Managing Director Bank Dunia memberikan pengalaman profesional yang luar biasa bagi saya. Dengan melihat berbagai pengalaman krisis dan tantangan ekonomi pembangunan di berbagai negara di seluruh belahan bumi, dapat dipetik pelajaran sangat berharga dalam pengelolaan ekonomi negara. Negara-negara dengan kebijakan ekonomi yang tidak dirancang secara baik dan hati-hati dan bila tidak dilandasi oleh visi jangka panjang dan dengan perhitungan yang akurat akan sustainabilitasnya, akan mengakibatkan krisis yang dapat merusak ekonomi, sosial dan politik negara tersebut. Pelajaran pembangunan lain yang sagat berharga adalah di dalam negara unsur kelembagaan yang sehat, kokoh, dan bersih (akuntabel dan transparan) adalah sangat penting. Negara sebesar dan sekokoh apapun, dan dengan tingkat pendapatan berapapun akan runtuh bukan oleh musuh di luar, namun biasanya justru oleh kerapuhan institusinya sendiri yang dijangkiti penyakit manajemen dan tata kelola yang buruk dan penyakit korupsi. Salah urus, salah rancangan dalam kebijakan ekonomi dan pembangunan dan rapuhnya kelembagaan terjadi dimana saja, baik di Asia, Eropa, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Serikat dan Amerika Latin, dan Afrika. Krisis juga bisa terjadi di tingkat pendapatan berapa saja, pada saat masih miskin, atau pada saat negara sedang menuju ke tingkat menengah (emerging), atau bahkan juga pada saat negara sudah maju dan kaya.

Pelajaran lainnya adalah penting dan sangat strategisnya investasi sumber daya manusia dengan merancang dan membangun sistem pendidikan, kesehatan, dan lingkungan yang kondusif bagi inovasi. Model pembangunan yang inklusif dan berkeadilan menjadi suatu keharusan untuk dapat memerangi kemiskinan dan mencapai kemajuan yang berkelanjutan. Proses pembangunan suatu bangsa adalah suatu perjalanan dan sekaligus perjuangan yang sangat panjang dan sama sekali tidak mudah. Inklusif dan berkeadilan mengamanatkan suatu proses kebersamaan yang bersih, berintegritas, transparan, akuntabel dan menghormati perbedaan sehingga seluruh lapisan rakyat dapat ikut memiliki proses pembangunan itu sendiri. Keberhasilan pembangunan bukanlah diukur dari hasil akhir saja, namun juga oleh proses yang bermartabat, beretika, jujur dan berkeadilan. Dihadapkan dengan tantangan pembangunan baik secara nasional maupun global yang makin rumit dan terus berubah, dengan segala kerendahan hati saya mengakui, masih begitu banyak hal di dunia ini yang belum saya pahami dan kuasai. Setiap hari dimana saja saya berkunjung di belahan dunia ini, proses belajar dan menyimak pengalaman akan terus saya lakuan. Dunia dan seisinya adalah universitas global bagi saya.

Washington DC, May 10 -2012

* Naskah dikutip dari posting di grup facebook “Sri Mulyani for President”.

This entry was posted in Prestasi Sri Mulyani and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s