Pencalonan Sri Mulyani Indrawati

sri mulyani for president 2014

Tidak perlu ditanyakan apakah SMI siap menjadi Presiden RI 2014. Pertanyaan dan tantangannya sekarang, apakah pemilih kita, baik pemilih lama maupun, terutama, pemilih baru, ingin memasang standar kualitas setinggi SMI?

Oleh: Wimar Witoelar

Nama Sri Mulyani Indrawati sekarang bukan lagi sekadar menunjuk pada seorang individu, Ia sudah menjadi nama yang melambangkan sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang bernuansa kejujuran ketegasan, dan kemampuan.

Transformasi nama menjadi brand terjadi karena  kehidupan profesional SMI secara nyata ditandai oleh tiga ciri tersebut. Sebab lain, yaitu klimaks kariernya saat ini di Indonesia dicapai justru karena ketiga sifat itu menimbulkan perlawanan pada tokoh antagonis yang merupakan sekaligus orang bisnis, orang politik dan orang yang haus kekuasaan. Politisi ambisius merasa terancam oleh orang bersih yang berada dalam lingkaran pemerintahan. Maka dengan segala cara, diusahakanlah agar SMI terpaksa mundur dari jabatannya dan meninggalkan Indonesia.

Bagi SMI sendiri, tekanan politik hanya merupakan kesempatan untuk membuktikan bahwa dia tidak melakukan kompromis dalam menjalankan etika.  Dia pergi dengan kemenangan bahwa prinspinya dijaga utuh. Yang ditanggalkan hanya jabatan pemerintah, yang baginya tidak mempunyai arti terlalu besar. Akan tetapi, bagi masyarakat Indonesia hilangnya seorang menteri keuangan yang bersih, jujur dan tegas merupakan suatu kemunduran. Apalagi karena tidak ada lagi pejabat pemerintah yang secara cemerlang menunjukkan integritas sekelas itu. Di bulan Mei 2010 terasa seakan-akan perginya Sri Mulyani merupakan akhirnya harapan pada integritas.

Kenyataan tidak demikian. Bahkan, terjadi titik balik dalam perjuangan etika publik Indonesia, ketika puluhan ribu orang anggota Facebook melakukan suatu gerakan politik sebagai kelanjutan sikap moral mempertahankan nilai publik yang positif. Kalau kita berbicara mengenai SMI sekarang didalam suatu forum publik seperti artikel majalah, kita tidak bicara lagi mengenai individu, tetapi mengenai persepsi masyarakat Indonesia terhadap individu itu dan apa harapan yang terkandung di dalamnya. Kini mencuat harapan publik akan pencalonan SMI sebagai Presiden. Setelah partai SRI yang mengusungnya mendapat verifikasi dari pemerintah, maka pencalonannya itu menjadi hal yang semakin konkret. Tapi ada juga yang melihatnya secara sempit dan harfiah mempertanyakan, apakah SMI memang bersedia atau apakah memang gerakan ini memang diluncurkan oleh SMI? Apa rencana SMI jika terpilih menjadi presiden? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terlalu tepat bagi orang yang mengerti wujud gerakan SRI atau SMI dan wujud dari harapan orang terhadap Sri Mulyani.

Orang memang mengharapkan munculnya seseorang yang jujur tegas dan mampu dalam pemerintahan. Namun, lebih daripada itu orang mengharapkan munculnya kualitas itu dalam kehidupan publik. Bukan hanya di satu orang SMI, melainkan di banyak orang. Apabila kehadiran tampilnya SMI dalam arena politik nasional di tingkat puncak menjadi inspirasi bagi calon pemimpin lain, maka itu adalah kemajuan yang diharapkan. Tidak ada konflik dari pencalonan seorang SMI dengan pencalonan seorang Yenny Wahid atau Mahfud M.D., atau siapa pun yang mempunyai citra bersih di mata masyarakat. Alangkah bahagianya pemilih presiden ditahun 2014 mendatang jika bisa memilih di antara calon-calon yang bersih, karena kalau kita lihat sekarang, semua yang disebut sebagai calon adalah mereka yang sudah menyalahi kepercayaan publik.  SMI adalah lebih dari calon presiden. Ia adalah standar kualitas. Keinginan kita adalah agar semua calon diukur terhadap standar integritas SMI dan agar pemilih meninggalkan politik yang menjalankan profesi sebagai kepentingan kekuasaan diri.

Kita lihat saja nanti menjelang 2014, bagaimana perjalanannya. SMI sudah jelas tidak akan berubah. Dia adalah sosok yang jujur, tegas, dan mampu. Dia kapabel dengan diresmikan oleh penghargaan dunia. SMI mencapai tingkat jabatan yang tertinggi di Bank Dunia bukan karena kampanye, melainkan karena pembuktian prestasi. Tidak perlu ditanyakan apakah SMI siap menjadi Presiden RI 2014. Pertanyaan dan tantangannya sekarang, apakah pemilih kita, baik pemilih lama maupun, terutama, pemilih baru ingin memasang standar kualitas setinggi SMI?  Harapan masyarakat yang belum masuk kubu politik pragmatis, nama SMI menjadi panggilan untuk sekali lagi mencoba mencapai reformasi kehidupan publik di Indonesia melalui cara yang demokratis dan damai.[ww]

Dikutip dari Majalah Warta Ekonomi 14 November 2011


This entry was posted in Wacana Pencapresan SMI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s