Sri Mulyani Ingatkan Dampak Krisis

smik partai sri

Sri Mulyani Indrawati World Bank Managing Director on ASEAN Finance Minister's Investor Seminar (Foto: Dhani Kurniawan)

Harian Seputar Indonesia, Wednesday, 09 November 2011

JAKARTA– Indonesia diminta untuk selalu bersikap hati-hati terhadap dampak krisis Eropa dan Amerika Serikat (AS). Krisis di kedua kawasan itu bisa berpengaruh terhadap perekonomian nasional.

Peringatan tersebut disampaikan Direktur Pelaksana Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati, seusai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin. Menurut mantan menteri keuangan tersebut, dari semua sektor, perdagangan merupakan yang paling terancam dampak krisis global. ”Kita harus tetap hati-hati. Barangkali yang paling penting itu, (hati-hati) terhadap semua kemungkinan gejolak maupun pengaruhnya, baik itu melalui jalur perdagangan, jalur moneter, (atau) jalur APBN kita ya,” papar Sri Mulyani.

Dia menjelaskan, ekspor bisa terpukul akibat krisis global meskipun untuk Indonesia dampaknya baru terasa pada gelombang kedua (second round). Artinya, ekspor Indonesia baru akan melemah jika negara- negara yang menjadi tujuan utama ekspor, seperti China dan Jepang, sudah terimbas krisis Eropa dan AS. Selain sektor perdagangan, Sri Mulyani juga meminta pemerintah untuk menjaga sentimen pasar. Sentimen tersebut akan sangat penting dalam mengelola gejolak yang timbul dari dampak krisis.

”Sentimen itu berhubungan dengan persepsi risiko, jadi mengenai volatilitas atau gejolak arus masuk dan keluar,itu menjadi sangat penting untuk tidak terlalu bergejolak.Yang ketiga tentu berasal dari remittance. Mungkin Indonesia tidak terlalu kena di situ, tourismjuga tidak,”ujarnya. Dia menilai sejauh ini kondisi ekonomi Indonesia masih bisa tahan dari guncangan krisis global.Kendati demikian, kewaspadaan harus terus ditingkatkan. Kunjungan Sri Mulyani ke Kantor Presiden, kemarin, dalam rangka audiensi dengan Presiden SBY.

Ini adalah kali pertama dia menginjak kompleks Istana Kepresidenan setelah 1,5 tahun meninggalkan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II untuk mengemban tugas di Bank Dunia.Namun,pertemuannya dengan Presiden SBY,kemarin,adalahkalikedua setelah meninggalkan Indonesia. Sri Mulyani sebelumnya pernah bertemu dengan Presiden SBY di Nusa Dua, Bali, pada 8 April lalu dalam acara Pertemuan Menteri Keuangan Se-ASEAN ke-15.

Datang mengenakan gaun batik warna cokelat,sosok yang pernah dinobatkan sebagai wanita paling berpengaruh ke- 23 dunia oleh Forbes tersebut tampak ceria saat bertemu dengan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar ataupun bersalaman dengan Presiden SBY.Turut mendampingi Sri Mulyani dalam pertemuan kemarin adalah Asisten Khusus Robert Shaum, Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Stefan Koeberle, Lead Economic Shubaum Chaudhuri, Sustainable Development Manager Bank Dunia Franz Drees Gross, serta Country Program Coordinator Mark Hagerstom.

Fokus lain dari pembicaraan Presiden SBY-Sri Mulyani adalah rencana penguatan kemitraan Indonesia-Bank Dunia. Menurut Sri Mulyani,Indonesia bisa menjadi contoh dalam upaya penanganan kemiskinan meskipun masih harus bekerja keras dalam perbaikan kualitas pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan. Pertemuan Presiden SBYSri Mulyani berlangsung sekitar 30 menit. Setelah pertemuan tersebut, kepada wartawan, Sri Mulyani menuturkan perasaannya kembali ke kompleks Istana Kepresidenan.” Rasanya baik,bagus. Istananya masih bagus,” ucapnya sambil tersenyum.

Namun, lulusan University of Illinois at Urbana– Champaign tersebut menolak berkomentar ataupun menjawab pertanyaan seputar pemilihan presiden pada 2014 mendatang. Sebagai catatan, Sri Mulyani sudah didukung Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) menjadi calon presiden 2014. Saat ditanya wartawan,mantan Direktur Eksekutif IMF tersebut hanya tersenyum dan berlalu.

Sementara itu,saat menjadi pembicara dalam pertemuan menteri-menteri keuangan dan investor se-Asia Tenggara di Jakarta, kemarin, Sri Mulyani mengatakan, di tengah kondisi perekonomian dunia yang semakin tidak menentu, negara berkembang tampil sebagai salah satu mesin pendorong pemulihan ekonomi. Hal ini menggambarkan terbangunnya kembali keseimbangan ekonomi global. Bank Dunia juga mengingatkan pemimpin negaranegara Asia Tenggara agar belajar dari kesalahan negara-negara Uni Eropa sebelum membentuk masyarakat ekonomi ASEAN pada 2015.

Integrasi negara-negara Eropa tidak dibarengi dengan konsistensi kebijakan makroekonomi dan fiskal sehingga ketika terjadi krisis di satu negara merembet ke negara lain dalam satu kawasan. Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan menuturkan, dunia mulai mengakui kawasan ASEAN telah menjelma menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di dunia. Salah satu indikatornya adalah realisasi investasi langsung asing yang terus meningkat hingga mencapai USD78,8 miliar.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui,krisis yang melanda zona Eropa dan Amerika menjadi perhatian pemimpin negara-negara ASEAN. Dunia,termasuk negara-negara kawasan ASEAN, terus mencari solusi yang komprehensif dan kuat untuk mengatasi krisis Eropa. Rencana yang jelas dan kredibel diperlukan untuk menangani masalah utang di negara ekonomi maju, termasuk AS.* maesaroh/wisnoe moerti

This entry was posted in Prestasi Sri Mulyani. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s