Partai SRI, Tantangan Bagi Oligarki Politik

Partai SRI

Bendera Partai Serikat Rakyat Independen terpampang di Rumah Integritas

Oleh: Donny Syofyan *)

Sebuah partai politik baru, Serikat Rakyat Independen (SRI), telah tampil di panggung politik Indonesia dan siap bertanding dalam Pemilu 2014.

Sesudah mendaftar di Kementerian Hukum dan HAM, partai ini juga berharap mengajukan Sri Mulyani Indrawati, yang kini menjabat direktur pelaksana Bank Dunia, sebagai calon presiden.

Banyak pihak menyambut tantangan partai baru ini, yang akan menghadapi jalan panjang ke depan. Kendalanya saat ini: SRI belum diverifikasi dan karenanya belum diakui sebagai partai politik. Mustahil bagi partai ini untuk mengajukan capresnya bila gagal memenuhi persyaratan verifikasi dan mendirikan cabang di sedikitnya 30 dari 33 provinsi di Indonesia sebelum tenggat 22 Agustus yang disyaratkan oleh UU Pemilu.

Kelihatannya, para politisi meremehkan peluang Sri Mulyani di 2014. Agung Laksono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat yang juga anggota Partai Golkar, berkata bahwa SRI tidak membuat Golkar khawatir. Max Sopacua, anggota dewan senior dari Partai Demokrat yang berkuasa, mengatakan Sri Mulyani bakal sulit mendaki jalan terjal menuju kepresidenan karena ia relatif tak dikenal, terutama di pedesaan.

Respons para politisi terhadap tawaran kepresidenan Sri Mulyani mengisyaratkan makin tumbuh dan menguatnya oligarki politik di kalangan politisi kita. Keterbukaan hati dan pikiran mereka pada peluang Sri Mulyani dalam Pemilu 2014 tak lebih dari sopan santun politik dan manis di bibir saja. Lanskap politik pascareformasi menunjukkan bagaimana keterbukaan politik dan demokrasi dikotori dan disabotase oleh oligarki politik.

Dinasti-dinasti politik mengemuka bahkan lebih kuat; menunjukkan gambaran buram institusi-institusi politik negeri ini. Puan Maharani yang dipersiapkan menjadi Ketua PDI-P berikutnya atau Edhie Baskoro Yudhoyono yang menduduki jabatan Sekjen Partai Demokrat, atas alasan apapun, hanya melanggengkan sebuah sistem politik yang menempatkan faktor keluarga di atas integritas kader. Kecenderungan ini membuahkan politik transaksional dimana keputusan-keputusan dan kesepakatan-kesepakatan politik diambil hanya oleh elite-elite partai.

“Faktor Sri Mulyani” dalam pencalonan presiden ini diperlukan untuk memutus lingkaran setan dinasti-dinasti politik yang telah merebak di antara partai-partai besar. Terlepas dari tiadanya latar belakang politik, Sri Mulyani punya rekam jejak sebagai tokoh kunci yang paling sukses memperkenalkan dan menjalankan reformasi birokrasi di Indonesia.

Masyarakat sebelumnya menaruh harap pada Anas Urbaningrum untuk berdiri menentang dinasti politik besar dalam Partai Demokrat. Namun, friksi internal partai dan skandal dugaan korupsi mengecewakan publik dan menyiratkan bahwa partai berkuasa ini telah berubah menjadi partai paternalistik yang pada akhirnya menjeratnya dalam lingkaran mafia bisnis dan politik.

Lebih jauh, rencana pencalonan Sri Mulyani sebagai presiden benar-benar memperoleh momentumnya berkat semakin menurunnya dukungan untuk muka-muka lama pada Pemilu 2014. Secara politis, ia dipandang memiliki risiko terkecil bukan hanya karena jaraknya dari lingkaran elite partai namun juga integritasnya dalam memadukan konsep dan aksi dalam upaya menjalankan reformasi birokrasi.

Ia orang yang istimewa dalam cerminan dan tindakan selama menjabat sebagai Menteri Keuangan. Ia tak suka menjadi pemimpin di menara gading. Rakyat telah jenuh dengan tokoh-tokoh era reformasi yang begitu banyak bicara sampai-sampai merusak periode transisi ini termasuk perjuangan demi kesejahteraan rakyat. Sama halnya, mereka juga frustrasi dengan para pemimpin Indonesia yang jatuh ke dalam lubang yang sama akibat minimnya kemampuan untuk melakukan rekayasa sosial.

Dibanding capres-capres lainnya, katakanlah Aburizal Bakrie dari Golkar atau Surya Paloh dari Partai Nasional Demokrat, Sri Mulyani punya kompetensi luar biasa dan menjanjikan dari kemampuannya membenahi persoalan atau mengambil kebijakan dengan sigap serta ketegasannya dalam membela setiap kebijakan yag diambil. Orang bisa melihat argumen-argumennya yang kuat menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari DPR dalam kasus Bank Century.

Tak pelak lagi oligarki politik Indonesia akan terserang bila Sri Mulyani masuk di tengah maraknya politisi kutu loncat atau pergantian pucuk pimpinan partai. Ia punya peluang menjadi kuda hitam di tengah peremajaan kepemimpinan partai-partai besar, yang pada gilirannya membuka pintu bagi politisi-politisi kutu loncat untuk pindah ke Partai SRI.

Suka atau tidak, inilah wajah muram perpolitikan Indonesia, dimana talenta-talenta terbaik mudah dibajak demi perolehan politik jangka pendek. Karenanya, Partai SRI diharapkan memiliki sistem yang jelas dan tegas untuk mencegah politisi-politisi partai lain bergabung hanya demi penyelamatan diri. Kegagalan untuk melakukannya bakal menimbulkan kesan bahwa partai baru ini adalah wadah bagi sekoci politik dan “suaka”.

Bilamana oligarki politik lama masih bergantung pada muka-muka lama elite dalam ring satu, panggung politik modern Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin profesional yang memperhatikan tuntutan reformasi dalam kerangka berpikir, kecerdasan, dan tekad rakyat. Partai-partai besar akan menerima dukungan publik yang kuat bila mereka menyingkirkan kultus ketokohan dan mendorong figur-figur profesional, seperti Sri Mulyani, untuk maju dalam Pilpres 2014.

* Penulis adalah lulusan University of Canberra, yang saat ini menjabat dosen Universitas Andalas, Padang. Tulisan ini dimuat diterjemahkan oleh Ronny Agustinus dari The Jakarta Post 12 Agustus 2011.

This entry was posted in Partai Serikat Rakyat Independen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s