Sri Mulyani Mundur, Lalu?

SMI Keadilan

Sri Mulani Indrawati: Jangan pernah berhenti mencintai Indonesia

Oleh:Edy Suandi Hamid*

Analisis di Kedaulatan Rakyat, 06/05/2010 06:35:28

AKHIRNYA Menteri Keuangan Sri Mulyani — dengan segala kekurangannya —- yang dinilai banyak pihak sebagai sosok cerdas, tegas, dan visioner, mengajukan pengunduran dirinya sebagai Menteri Keuangan. Alasannya, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini akan menduduki jabatan sebagai Managing Director Bank Dunia mulai 1 Juni 2010. Tentu banyak pro-kontra atas sikap ini.

Penulis ingin memberi dua catatan atas pengunduran diri ini. Pertama, terkait sikap atas pengunduran diri itu sendiri. Yang kedua, implikasi pada perekonomian nasional. Saya menyayangkan dan sekaligus mengapresiasi sikap mundur dan rencana posisi baru Sri Mulyani.

Seandainya beliau mundur ketika hangat-hangatnya kasus Bank Century empat-lima bulan lalu, maka beliau menunjukkan sosok negarawan sejati. Waktu itu desakan mundur pada beliau sudah muncul, termasuk juga pada Pak Boediono selaku Wakil Presiden. Penulis pun memberikan pandangan seperti itu ke bebarapa media.

Mengapa waktu itu saya lebih menyarankan beliau mundur? Sosok Sri Mulyani, juga Boediono, merupakan orang yang secara pribadi dianggap jujur dan sangat berpengaruh. Banyak rakyat Indonesia yang mengagumi dan mengidolakannya. Jika saat itu ia mundur, ia memberi contoh ke publik tentang suatu tanggung jawab atas kebijakan yang dia ambil dan kemudian dipermasalahkan.

Memberikan contoh pula untuk mempermudah aparat memeriksanya, karena lepas dari berbagai protokoler jabatan yang melekat padanya. Dengan mundur, ia juga menunjukkan sosok negarawan yang bertanggungjawab.

Menurut hemat saya, jika waktu itu dia mundur, figurnya bukan akan tenggelam, melainkan semakin mendapat apresiasi dari sebagian besar rakyat Indonesia. Sebab, budaya mundur masih belum terbiasa bagi pejabat tinggi negara. Sri Mulyani akan memulai dan menorehkan sejarah dan budaya baru bagi pejabat negeri ini, yang banyak haus kekuasaan. Sayangnya itu baru terjadi sekarang. Namun lepas dari itu, sebagai bangsa, kita pun layak memuji dan mengapresiasinya. Tentu tawaran jabatan seperti itu tidak mudah didapat dari warga negara berkembang seperti Indonesia. Bagaimanapun ini adalah bentuk apresiasi atas prestasi anak bangsa. Ada warga Indonesia yang ikut memimpin lembaga prestisius yang bernama International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) yang lebih dikenal dengan sebutan Bank Dunia (World Bank).

Tentu bukan soal keterwakilan itu saja harapan kita pada Sri Mulyani. Lebih dari itu bagaimana jabatan itu juga bisa memberikan kontribusi riil bagi pembangunan Bangsa Indonesia. Bagaimana kebijakan Bank Dunia betul-betul membantu negara berkembang dunia, termasuk Indonesia.

Bagaimana beliau bisa menghilangkan imej bahwa Bank Dunia hanya berorientasi pada kepentingan negara maju dan korporasi global, atau lainnya. Tentu menjadi persoalan kalau jabatan itu mewujud seperti yang ditulis dalam sebuah milis ”membuat Sri Mulyani menjadi merdeka untuk mempraktikkan faham neoliberalismenya”.

Yang terakhir ini tentu tidak kita harapkan terjadi!! Lantas apakah pengunduran diri Sri Mulyani ada dampaknya pada perekonomian nasional? Tentu sosok Sri Mulyani punya efek psikologis terhadap pasar kita. Apalagi bagi pasar, sosok Sri Mulyani dianggap orang yang kredible dan tegas.

Namun, dengan fundamental ekonomi yang sudah jalan cukup kuat, tentu ini hanya berdampak jangka pendek saja. Tidak akan mempengaruhi fundamental ekonomi kita yang kini sudah semakin kokoh. Hanya saja yang perlu mendapat perhatian adalah sosok penggantinya di Departemen Keuangan.

Bagaimanapun publik melihat banyak hal yang sudah dilakukan oleh Sri Mulyani untuk melakukan perbaikan di Depkeu, yang dikenal sebagai departemen ”basah”. Ia sudah memulai reformasi birokrasi, walaupun belum sukses, dan tercemar oleh ”Kasus Gayus”.

Namun, secara sistem, ini perlu dilanjutkan. Karena itu, sosok yang tepat untuk menggantikannya adalah mereka yang sudah mengenal situasi Depkeu. Bukan orang baru yang mungkin akan membuat sistem yang sedang dibangun bisa jadi harus dirombak lagi….

(* Penulis adalah Guru Besar Ekonomi UII).

Sumber: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=215237&actmenu=45

This entry was posted in Hati Nurani Mereka Bicara SMI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s