Kenapa Bank Century Harus Diselamatkan

Partai SRI

Sri Mulyani Indrawati

Oleh: Tuahta Aloysius Saragih*

Krisis financial dan ekonomi bias menjalar. Memiliki contagion effect atau efek domino. Disebut efek domino karena jika anda berdirikan kartu domino lalu kalau satu kartu anda dorong hingga menyentuh yg lain maka semua kartu itu akan rubuh. Ini analogi yang sering diapakai kenapa kalau satu bank dirush oleh nasabahnya, maka otoritas moneter (BI) dan otoritas fiskal (Kementerian Keuangan) seperti melihat setan. Takut setengah mati dan ambil ancang-ancang untuk membangun pertahanan.
Kira-kira diakhir tahun 2008, memang terjadi situasi ketidakpastian dalam ekonomi dunia. Saya tidak akan mengulang lagi soal krisis di US, Inggris, Jepang lalu beberapa Negara Asia. Mari kita lihat apa dan bagaimana diIndonesia. Pada quartal-IV/2008 siatuasi pasar keuangan tertekan dalam menghadapi berita negative pasca keruntuhan Lehman Brothers. Kalau diIndonesia saat itu saya mendengar keruntuhan harga saham-saham keluarga Barie Brothers. Sehingga pada saat itu ada joke, don,t use brothers as the tittle of your company”. Ini hanya karena kalau di US Lehman Brothers yang runtuh dan diIndonesia Bakrie Brothers yang semaput. Pada saat itu Index Harga Saham Gabungan (IHSG) belum satu tahun buku sudah merosot 50%. Dari pernah mencapai angka 2830 drop menjadi 1155 (ini salah satu tanda krisis lho).
Tekanan yang hebat juga terjadi pada Surat Utang Negara (SUN) yang diterbitkan pemerintah. SUN yang keempat diterbitkan, dengan yield 10% pertahun mendadak naik menjadi 20% pertahun. Gampangnya yield itu adalah imbal hasil bagi investor yang harus diberikan pemerintah atas pembelian SUN yang diterbitkan. Kalau angka itu naik maka pasti pemerintah harus merogoh kocek lebih dalam lagi. (ini juga tanda krisis lho). Lalu masih ada tekanan kepada industry perbankan kita. Bank Pressure Index (BPI) naik kriits normalnya angka ini disepakati sekitar 0,5, namun diakhir 2008 itu BPI naik menjadi 0,9.
Kita tinggalkan analisa tersebut. Mari kita lihat Bank century sendiri. Saya akan membuat table:
Bank Century Tidak Diselamatkan/Ditutup Bank Century Diselamatkan
Pembayaran Dana Pihak Ketiga 6,4 T
Penjualan Assest BC 600 M
Biaya LPS 5,8 T
Pemerintah menginjeksi modal 6,7 T
Potensi balik Modal 3 T
Biaya Yang Dikeluarkan LPS 3,7 T
Arti dari hitung-hitungan diatas adalah jika pemerintah TIDAK menyelamatkan Bank century, maka Pemerintah wajib menalangi biaya sebesar Rp 5,8 Triliun dan BC akan dijual diharga CUMA Rp 600 miliar. Biaya talangan dana pihak ketiga sebesar 5,8 miliar ini akan hilang begitu saja dan TIDAK AKAN pernah kembali.
Sebaliknya, jika pemerintah mengambil kebijakan menalangi BC, maka meskipun Pemerintah membail out BC sebesar 6,7, aka nada potensi dana kembali sebsar 3 Triliun, dimana terjadi penghematan sebesar 2,8 Triliun. Hasil pengurangan 5,8 Triliun dikurangi 3 Triliun, plus tambahan BC masih eksis dan beroperasi sampai saat ini.
Berdasarkan laporan dari lembaga Penjamin Simpanan (LPS) total asset BC saat ini sudah mencapai Rp 8 Trilliun dengan laba bersih Rp 500 miliar. Ini artinya secara simple kita bisa menyimpulkan bahwa kebijakan bail out BC yang diambil KKSK dimana Sri Mulyani Indrawaty (Mantan Menteri Keuangan RI) menjadi Ketuanya sudah TEPAT. Silahkan difollow link-nya http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/09/18/09095013/Investor.Asing.Minati.Eks.Bank.Century
Alasan kedua kenapa Pemerintah membail out BC juga, karena Bank Century masuk menjadi anggota LPS maka LPS wajib menalangi kewajiban BC kepada stakeholdernya. Itu baru dari hitung-hitungan ekonomisnya. Jika BC tidak diselamatkan maka ADA potensi timbulnya krisis besar yang jika ditahun 1998 memakan biaya lebih kurang 1000 T (termasuk biaya kontinjensi, politik, potensial loss, instability dll). Dan kita semua tentu tidak ingin krisis tahun 1998 itu terulang kembali.
Artinya dengan hitung-hitungan yang seperti diatas, maka pemerintah tanpa ragu menyelamatkan BC sehingga krisis tidak terjadi. Sudah seharusnya kita berterimakasih kepada para pengambil kebijakan bail out BC itu, bukan sebaliknya mengintimidasinya seperti sedang membela kebenaran yang entah dari mana reasoning-nya. (TAS)
* Tuahta Aloysius Saragih adalah pengamat kebijakan publik dan pegiat SMI Keadilan, Aloysius adalah alumnus School of Law, The University of Melbourne, Australia.
This entry was posted in Analisis Kiprah & Kebijakan SMI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s