Percakapan Sri Mulyani Indrawati dengan SIIA’s Global Insight

SMI Keadilan

Sri Mulyani Indrawati: Reputasinya secara internasional sangat disegani.

Tema: Global Growth and Regions (29 Maret 2011)

Interviewer: Associate Prof. Simon Tay, Chairman, Singapore Institute of International Affairs. Lin Xueling, Channel News Asia.

SIMON: Kita sudah bicara tentang pertumbuhan ekonomi dunia, dan peran Asia di dalamnya. Namun kini, dengan situasi yang terjadi di Timur Tengah dan Jepang, bagaimana prediksi anda tentang situasi beberapa bulan ke depan?

Sri Mulyani Indrawati (SMI): 2011 dipandang banyak pihak sebagai masa pemulihan dan konsolidasi. Dalam hal ini para pembuat kebijakan mengkonsolidasi lagi bagaimana cara mereka mengambil keputusannya. Karena seperti kita tahu 2008-2009 adalah masa yang sangat sulit bagi para pembuat kebijakan, dan kondisi itu menyatukan mereka. Saya menjadi saksi pembentukan G20 Leaders Forum, di situ para pemimpin negara bersatu dan berusaha mengatasi dan memulihkan kepercayaan.

2010 adalah masa kita melihat hasil dari kebijakan terkoordinasi itu. Kita tercengang karena ternyata, semua negara menanggapinya dengan cara yang sama–meski tergantung pada seberapa fleksibel kebijakan fiskal dan moneter di negaranya masing-masing, tapi tetap mereka bekerja sama.

2011 dilihat sebagai masa normalisasi, termasuk juga deviasi, dimana negara-negara berkembang tiba-tiba mengalami ‘overheating‘ (dituntut tumbuh dalam waktu sangat cepat), karena terbatasnya supply (penawaran) namun permintaan meningkat, efek dari stimulus fiskal dan moneternya. Namun negara-negara maju ternyata masih harus bergulat dengan permasalahan ekonominya. Itu sebabnya di tahun ini, semua negara terfokus pada cara untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya, mengatasi angka inflasi, dan menurunkan angka pengangguran.

Tugas saya sebagai Managing Director di Bank Dunia terfokus pada upaya untuk mengurangi kemiskinan, dan menjaga agar situasi yang stabil saat ini bisa dipertahankan, karena kita lihat sekarang, kenaikan harga pangan dunia, secara pasti menghantam kelompok miskin. Dan itu sebabnya ketika memasuki tahun ini, para pembuat kebijakan memberikan perhatian serius pada persoalan struktural.

Inflasi pangan saat ini sudah mencapai, sekitar 10% di banyak negara di kawasan ini, termasuk di China. Dan dengan harga BBM yang melambung, ingatan kita kembali pada situasi di 2008.

Diskusinya sekarang adalah bagaimana cara mengatur pengeluaran negara, agar lebih ditujukan dan digunakan untuk melindungi masyarakat miskin, dan pada saat yang sama meningkatkan kapasitas sumber daya yang ada bagi pembangunan infrastruktur dan investasi dalam jangka menengah panjang, termasuk di dalamnya sumber daya manusia, dan lain sebagainya.

LIN: Tapi bukankah sekarang isunya sudah bukan lagi soal bersatu untuk keluar dari krisis, tapi soal dua lajur ekonomi; negara-negara maju masih berkutat dengan soal tingginya angka pengangguran, tingginya defisit keuangan, dan persoalan infrastruktur lainnya, sedangkan negara-negara berkembang sedang giat-giatnya mengembangkan perekonomiannya?

SMI: Ya dan tidak. Tiap negara harus melihat pada penawaran dan permintaan, baru kemudian cara menggunakan instrumen kebijakan. Situasinya akan lebih rumit, karena mereka tidak lagi bergerak ke arah yang sama, khususnya saat ini, meski dikatakan banyak kebijakan yang sifatnya global.

Contohnya kebijakan fiskal Cina sekarang menjadi isu besar untuk semua negara di dunia. Angka defisit di Yunani, akan berdampak internasional. Jadi, jangan gunakan kebijakan makro untuk menjawab persoalan struktural. Karena ini seperti menggunakan ‘pain-killer‘ (obat penghilang rasa sakit) untuk mengatasi masalah struktural yang lebih dalam.

Banyak poiltisi yang biasanya menunda kebijakan struktural mereka, karena risikonya besar, menyakitkan, dan seringkali menyebabkan popularitas mereka turun. Pencabutan subsidi, pengurangan pensiun, membersihkan dan meningkatkan kinerja birokrasi, melawan korupsi. Saya sudah lakukan semuanya. Dan hasilnya sangat menyakitkan. Perlu keberanian besar, juga kepemimpinan. Tapi itu semua perlu dilakukan sebagai dasar agar pertumbuhan ekonomi bisa berkelanjutan, kompetitif, dan efisien.

Pada saat yang sama, kita tak hanya terfokus pada pertumbuhan semata: saat ini makin banyak negara melihat bahwa inklusifitas sangat penting. Tren urbanisasi sangat penting.

Jadi saya berpendapat, pilihan kebijakan masih tetap sama. Gunakan kebijakan makro sebagai instrumen untuk mengatur keseimbangan permintaan-persediaan dengan cara yang bijaksana, dan lebih berfokus pada kebijakan struktural.

SIMON: Anda bicara tentang middle-income trap (jebakan penghasilan-menengah); situasi ekonomi Asia cukup baik saat ini, tapi ada bahaya bahwa kita akan menabrak tembok. Bisa anda jelaskan tentang hal ini dan apa bahaya dari middle-income trap ini?

SMI: Sejarah telah menunjukkan, tidak banyak negara yang bisa meningkatkan level dari status ‘menengah ‘ ke ‘atas’. Korea Selatan, Jepang, hanya beberapa. Itu sebabnya Cina sekarang, walaupun kita harus mengakui selama 30 tahun terakhir mereka berkembang dengan sangat mengagumkan, lihat saja angka pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapitanya, namun saat ini mereka harus merancang kembali dan berpikir ulang tentang cara agar angka pertumbuhan itu bisa berkelanjutan, khususnya dalam menyikapi permasalahan ketidakseimbangan antar wilayah, antar kota-desa, antar negara maju-berkembang, soal generasi muda adalah permasalahan lain, termasuk juga kualitas institusi pemerintah.

Kita bisa merancang prasarana, hard infrastructure lebih mudah dirancang, meskipun tidak selalu, saya mengalaminya di Indonesia, membangun prasarana tidak selalu mudah. Namun membangun hard infrastructure lebih mudah daripada soft infrastructure, yaitu kelembagaan, mengubah birokrasi dan menjadikan lembaga publik lebih efisien dan tidak korup, lebih melayani rakyat dan kepentingan negara. Itu semua memerlukan sistem hukum, peradilan yang bisa mewadahi warga negara untuk beraktivitas, termasuk juga dalam hal ekonomi, penyelesaian sengketa secara efisien, misalnya. Ini terkait dengan apa yang kita sebut sistem dimana kita harus berinvestasi lebih pada manusianya, pendidikan, dan di saat yang sama mengatur kepentingan politik agar tidak menghancurkan kepentingan ekonomi dan sosial. Itu yang paling sulit.

Dan itulah sebabnya, middle-income trap, dalam hal ini, terjadi di banyak negara; mereka takut untuk maju karena rancangan kelembagaannya tidak selaras dengan kemajuan ekonomi. Dan akhirnya, ketidakselarasan antara kepentingan sosial, ekonomi, politik, dan hukum. Empat faktor ini akan berantakan.

Timur Tengah, misalnya, seberapa pun besarnya uang yang dikeluarkan pemerintah, jika empat faktor itu tidak selaras, maka akan hancur, dan memerlukan koreksi.

LIN: Bicara soal pemerintahan yang bersih dan anti korupsi, anda bertanggung jawab soal itu sekarang di Bank Dunia, meskipun mengupayakan good governance seringkali dipersepsikan sebagai konsep Barat, namun ternyata konsep ini berhasil diterapkan di Asia dan kita yakini itu. Jadi mengapa kita harus menolak konsep ini?

SMI: Saya rasa bukan begitu. Masyarakat dunia, tak pandang ras, etnik, negara, semua berharap sesuatu dari pemimpin mereka.

Jadi akuntabilitas bukan sekedar soal apakah ini nilai Barat atau bukan. Tapi soal berhutang pada rakyat, pada mereka yang memberikan kuasa dan kepercayaan untuk mengelola negara.

SIMON: Kita beralih ke topik lain. Satu hal yang sekarang sedang menjadi topik pembicaraan adalah soal bangkitnya kelompok kelas menengah di Asia. Bagaimana pandangan Bank Dunia tentang hal ini? Apakah Asia akhirnya berhasil keluar dari kemiskinan?

SMI: Hebatnya, sebagian besar negara berkembang yang menghadapi isu kelompok kelas menengah dan urbanisasi, melahirkan tantangan baru soal kebijakan. Bank Dunia jelas masih fokus pada soal kemiskinan, namun kita sekarang mulai menjadi apa yang disebut ‘the knowledge bank’. Mengkombinasikan pengetahuan dengan transparansi; sekarang anda bisa mengakses data-data Bank Dunia, rumusan kebijakan, model kerja kita, dan sebagainya.

Bank Dunia mendapat nilai tertinggi sebagai lembaga yang paling transparan, jadi kita tidak hanya mengajarkan negara-negara untuk menjadi transparan, tapi kita pun menerapkannya.

LIN: Jadi apakah Bank Dunia telah memenuhi apa yang menjadi tujuannya, yakni membebaskan dunia ini dari kemiskinan?

SMI: The World Without Poverty – tulisan itu akan anda temukan di gerbang masuk gedung kami, Our Dream is The World Without Poverty. Tapi itu juga jadi masalah karena mereka bilang our dream” (“mimpi kita”). Jadi anda harus tidur dulu lalu mencapainya.

(penonton tertawa)

Dan saya katakan, come on, kita harus mencapai tujuan itu. Maka, saya katakan: Belum! Kami belum mencapai tujuan kami. Jika kita bicara soal MDG (Millenium Development Goal) 2015, kemiskinan harus diturunkan hingga setengahnya, artinya, kita masih harus berurusan dengan lebih dari 1 milliar masyarakat miskin di dunia.

Cina masih punya lebih dari 100 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintahnya masih berjuang untuk menciptakan keseimbangan dan inklusivitas dalam mengatasi isu kemiskinan. Dan Bank Dunia menjadi mitra mereka.

LIN: Simon dan saya di awal sempat berbincang-bincang, apa yang harus kita bahas di sini, apakah perdagangan selatan-selatan, maksudnya, antar negara berkembang. Apakah itu yang diinginkan oleh Bank Dunia? Dan mereka harus sedikit melepas ketergantungannya pada negara maju dalam hal konsumsi?

SMI: Ini bukan soal ketergantungan pada negara berkembang, atau pun negara maju. Tapi soal menciptakan ekonomi global yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

LIN: Apa maksudnya?

SMI: Maksudnya, kita harus menyesuaikan model pertumbuhan ekonomi di banyak negara berkembang. Mereka tidak lagi bergantung pada lokomotif pertumbuhan negara-negara Barat. Asia Tenggara, Asia Timur, dan Asia Pasifik telah menjadi lokomotif pertumbuhan. Artinya, tidak lagi meminta pihak lain untuk menjadi faktor penarik, merekalah yang harus bertanggung jawab,dan menjadi faktor penarik bagi dunia. Dan dalam hal ini, mereka harus menumbuhkan permintaan dari bahan mentah, dan mereka mengadakan pertukaran (dagang). Asia dengan Afrika, Asia dengan Amerika Latin. Mereka mulai paham, dan karena faktor keterbukaan dan transparansi, mereka belajar. Mereka sekarang tahu bahwa untuk mewujudkan perdagangan yang lebih adil dan efisien, mereka harus membangun konektivitas (keterhubungan). Sehingga kemudian mereka membangun prasarana.

SIMON: Ketika anda bicara soal Asia Pasifik dan kawasan ini, muncul ide soal seluruh Asia bersatu. Tapi tidakkah anda melihat bahwa jika kita bicara soal pertumbuhan kawasan ini, maka Cina yang mendominasi? Dan apa bahayanya jika kita hanya terfokus pada Cina?

SMI: Cina memang jelas menjadi faktor yang sangat sangat penting di Asia Tenggara dan bahkan dalam soal isu pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Jika kita membaca banyak ulasan ekonomi, selalu ditulis, pertumbuhan sebesar 9,6% negara-negara berkembang di kawasan ini, tanpa Cina, hanya akan mencapai 8%. Pertumbuhan ekonomi negara berkembang di tahun 2010 adalah 7%, namun jika Cina tidak masuk menjadi 5,5%. Jadi China dengan 1,3 milyar penduduknya jelas menjadi satu ‘dunia’ tersendiri. Mereka punya masalah kebijakan sendiri. Tapi apakah benar kita terlalu bergantung pada Cina? Mungkin Cina juga paham bahwa mereka perlu merancang satu model pertumbuhan ekonomi yang lebih sustainable (berkelanjutan). Dan di saat yang sama, Cina menjadi contoh bagi banyak negara berkembang dalam hal kebijakan.

Permasalahan yang dihadapi China sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang dihadapi oleh banyak negara berkembang lain, baik di kawasan ini maupun secara umum. Jadi jelas, Cina masih menjadi faktor yang sangat penting, namun kita tidak terlalu bergantung padanya.

Sekarang kita bicara soal BRIC–Brazil, Russia, India, dan China. Ada lagi istilah BRICS–ditambah Selatan. Ada lagi yang menyebut BRIICS, dengan dua I, Indonesia. Jadi banyak sekali ‘puzzle’. Tapi bisa kita katakan bahwa pertumbuhan ekonomi sekarang telah menjadi multi-polyvalent. Tersebar ke banyak kawasan. Satu negara bisa jadi lebih besar angka pertumbuhannya daripada negara lain, tapi tidak berarti hanya ada satu pemain disini.

SIMON: Bagaimana anda melihat prospek Indonesia? Dalam soal isu pertumbuhan, pemerintahan, dan shocking factor (faktor yang mengguncang) seperti harga bahan bakar?

SMI: Indonesia jelas berinvestasi dalam reformasi strukturalnya. Sebagian di antaranya adalah sistem keuangan yang lebih baik, pengawasan yang baik, berkualitas, dalam hal tranparansi kebijakan publik. Check and balance.

Dengan keterbukaan ini, Indonesia memiliki keuntungan untuk belajar dari negara tetangganya, dari mereka yang telah berhasil, namun di saat yang sama, Indonesia menjadi rentan terhadap persoalan eksternal, seperti harga minyak, pangan, arus modal.

Dari sisi pemerintahan, Indonesia telah berinvestasi cukup besar. Saya tidak percaya, tapi di pertemuan tahunan terakhir di Bank Dunia dan IMF, mereka bilang anti-korupsi di Indonesia termasuk yang paling baik di dunia, meskipun belum maksimal, tapi ada hasilnya.

Seperti juga negara lain di dunia, Indonesia harus dan masih memiliki banyak tantangan, pembangunan kelembagaan belum selesai, reformasi birokrasi masih perlu terus diperkuat.

LIN: Apakah situasi saat ini lebih baik daripada ketika anda pergi?

SMI: Saya tak tahu, anda jawab sendiri.

(penonton tertawa)

Saya rasa, lebih baik. Namun dalam soal ini, the dangers of comparison, harus diletakkan pada tempatnya.

Ketika saya masih menjabat sebagai menteri keuangan, saya selalu bilang pada kolega saya di kementerian keuangan, berinvestasilah di situasi yang bagus: ketika matahari bersinar, cuaca cerah, semua orang pergi ke pantai, bersenang-senang, kita harus bekerja keras, karena itulah saat yang tepat dimana kita harus membuat keputusan, di saat semua orang senang. Ketika semua orang senang, mereka bisa menerima keputusan yang pahit sekalipun. Memecat orang yang paling korup, mengubah skema, PHK, harus dilakukan di saat ekonomi sedang berkembang.

Sehingga ketika situasi berubah, hujan, badai, atau bahkan tsunami, kita punya landasan yang lebih kuat, tak ada satu pun negara di dunia ini yang bisa menjamin bahwa situasi eksternal selalu tenang dan stabil.

Selalu ada kejutan, termasuk ketika saya putuskan untuk mengambil pekerjaan di Bank Dunia. Saya pikir ini pekerjaan paling gampang di dunia, tapi kemudian, ada masalah Timur Tengah, masalah krisis pangan. Jadi kita tidak boleh menduga-duga.

Dan saya selalu berusaha membuat pekerjaan saya sangat menarik, dan saya tidak tahu juga kenapa Tuhan selalu memberikan saya tantangan yang menarik, jadi klop lah. (penonton tertawa)

LIN: Saya paham Sri Mulyani suka pada tantangan sehingga tibalah saatnya kita buka forum ini pada pemirsa untuk menantangnya lebih jauh.

Pemirsa 1 (Orang Jepang): Bagimana anda melihat ekonomi Jepang dalam jangka menengah ini, dan perannya dalam ekonomi dunia.

SMI: Masih terlalu dini untuk dikatakan, meskipun Jepang punya landasan struktural tersendiri yang bisa dijelaskan dengan atau tanpa bencana tsunami dan krisis nuklir yang saat ini terjadi. Jepang punya permasalahannya sendiri, sangat kompleks, dalam hal kebijakan, hutang, deflasi, dan jika diperhitungkan dengan apa yang terjadi sekarang, sebenarnya ini bisa menjadi faktor positif. Banyak orang bicara soal cara Jepang menyelesaikan gempa Kobe 1995, perlu waktu 6 bulan untuk pemulihan, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Jepang harus menyelesaikan masalah keuangan publik. Walaupun mungkin perlu waktu yang cukup lama, karena mereka menciptakan pasar hutang domestik. Apa artinya untuk Jepang? Artinya, anda berhutang terus dan terus dan mewariskan hutang itu ke anak cucu anda.

Namun Jepang juga cukup beruntung, karena mereka sangat terbuka dan berorientasi ekspor, jadi mereka bisa bergantung pada permintaan yang datang dari luar untuk menggerakkan ekonominya, sebagai tambahan pasar domestik.

Jadi Jepang memerlukan banyak perubahan kebijakan, yang sangat menyakitkan, untuk memulihkan ekonominya. Dan bukan tidak mungkin dengan bencana besar ini, Jepang bisa bersatu dan punya satu visi tentang bagaimana mengatasinya.

Dengan karakter masyarakat Jepang yang sangat disiplin, bisa menjadi modal penting, dan sangat mungkin bagi mereka untuk mengatasi masalah ini.

Jadi menurut saya, prediksi jangka menengah tentang Jepang masih positif, masih banyak negara di dunia yang menjadikan Jepang contoh dari keberhasilan.

Pemirsa 2: Anda menyebut soal pengangguran usia produktif, apakah ini benar-benar pengangguran, atau pengangguran terselubung? Dan apa yang dilakukan Bank Dunia untuk mengatasinya?

SMI: Ini jelas soal ketidakcocokan antara pendidikan dengan jenis pekerjaan yang dibutuhkan.

Teknologi berperan besar dalam perubahan, saat ini. Kita habiskan waktu lebih dari 15 atau 20 tahun belajar, dan ketika lulus, dunia sudah berubah, ketrampilan yang dibutuhkan juga berubah.

Jadi ketidakcocokan ini menjadi masalah besar. Soal lain, tentang keberagaman jenis pekerjaan, masih banyak generasi muda yang berpikir jenis pekerjaan ‘tradisional’. Sekarang banyak jenis pekerjaan baru, tapi belum dikenal oleh generasi muda.

Saya berikan contoh, dari pandangan orang tua saya.

Ketika saya mendaftar kuliah di Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi, ibu saya bilang, sekolah apa itu? Dia tidak tahu ilmu apa yang saya pelajari, dan pekerjaan apa yang bisa saya jalani setelah lulus. Tapi, setelah saya menjadi Menteri Keuangan, semua orang terkejut, dan mengatakan, mereka tidak tahu dari Fakultas Ekonomi bisa jadi seorang menteri, dan saya katakan, saya pun tak tahu.

Generasi saya, saya katakan ke anak-anak saya, kamu boleh bekerja apa saja, jadi guru boleh, atau jadi polisi, supaya bisa menangkap koruptor. Atau jadi jaksa agung, pengacara. Tapi anak-anak saya berpikir lain, mereka, seperti juga teman-teman sebayanya, ingin bekerja di industri kreatif.

LIN: Apakah ibu anda sekarang bertanya apa yang anda lakukan di Bank Dunia?

SMI: Saya katakan, saya pegawai negeri internasional.

(Dikutip dari: www.srimulyani.net)


This entry was posted in Wawancara sbg MD World Bank. Bookmark the permalink.

2 Responses to Percakapan Sri Mulyani Indrawati dengan SIIA’s Global Insight

  1. M. Ridwan says:

    Cerdas, berkarakter .

  2. memeth says:

    jawban…dng cara berpikir strategis..dan mendalam…inklud sebuah kecerdasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s