Wayang Dewi Srikandi untuk Sri Mulyani

SMI Keadilan

Sri Mulyani: Dihargai dan dihormati para punggawa ekonomi Indonesia

Senin, 24 Mei 2010 | 21:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sebelas sesepuh ekonomi Indonesia mengundang mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di perjamuan makan tertutup di Grha Bimasena, Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Senin (24/5) sore.

“Cuma makan bersama sebelum dia berangkat ke Washington,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Emil Salim, kepada Tempo di lokasi.

Selain Emil, terdapat 11 punggawa ekonomi yang hadir, yaitu JB Sumarlin, Adrianus Mooy, Subroto, Ali Wardhana, Rachmat Saleh, Suhadi, Budi Mulyono, Firmansyah, dan Junaidi. Begawan ekonomi Widjojo Nitisastro, 83 tahun, juga datang, meski  harus dipapah dan didorong di atas kursi roda.

Sejak pukul 16.15 hingga 18.30 WIB, mereka bertukar pikiran dengan Sri Mulyani sehubungan jabatan barunya sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. “Agar  Bank Dunia bisa lebih berkontribusi bagi negara berkembang,” kata Emil, 80 tahun.

Menteri yang malang melintang di berbagai departemen sejak 1971 sampai 1993 itu menambahkan pertemuan itu juga membahas pekerjaan rumah yang ditinggalkan Sri di Kementerian Keuangan. “Dia kan baru satu tahun di sana, seharusnya masih ada empat tahun lagi,” kata Doktor Ekonomi  lulusan Universitas California Berkeley, AS, itu.

Dalam kesempatan itu, para ekonom senior tersebut memberikan cindera mata berupa wayang kulit Dewi Srikandi. Diambil dari cerita wayang Jawa, Srikandi merupakan suri tauladan prajurit perempuan. Putri dari Prabu Drupada dan Dewi Gandawati ini memiliki keahlian memanah yang didapat dari Arjuna, yang kemudian mempersuntingnya.

Dalam Perang Bharatayudha, Dewi Srikandi menjadi satu di antara pemimpin pasukan Pandawa. Panahnya, Hrusangkali, berhasil menewaskan Bisma, pemimpin besar pasukan Kurawa.

Sri Mulyani enggan menceritakan isi pertemuan tersebut. “Saya tidak komentar, Mas,” ujarnya saat meninggalkan lobi Bimasena.

REZA MAULANA

This entry was posted in Sri Mulyani di Mata Para Tokoh. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s