Sri Mulyani: Bank Dunia Memacu Adrenalin Saya

SMI KeadilanSenin, 18 April 2011 | 01:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta — Perjumpaan itu bagaikan homecoming yang meriah di Hotel Laguna, Nusa Dua, Bali. Sri Mulyani Indrawati melangkah ke ruangan yang dihadiri peserta Pertemuan Menteri Keuangan ASEAN ke-15, pada Jumat, 8 April lalu.

Sederet wartawan yang tengah membidik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta sejumlah figur penting lain terperangah,  lalu serentak berbalik arah, menyongsongnya.  Segar dan semampai dalam balutan batik biru pucat berhiasan motif bunga-daun  cokelat moka, Sri Mulyani menebar senyum. Dan kamera-kamera  menjepret dia berulang kali dalam kilatan lamput blitz.

Undur dari kursi Menteri Keuangan Indonesia Bersatu II per 1 Juni 2010, Sri Mulyani pindah ke Washington, DC, Amerika Serikat, pada bulan yang sama. Ia mengisi pos barunya sebagai Managing Director Bank Dunia. Sembari di Indonesia, namanya kian kerap disebut sebagai salah satu kandidat calon presiden Indonesia periode 2014.

Di sela-sela jadwal yang amat padat, dia memberi wawancara khusus kepada wartawan Tempo Hermien Y. Kleden dan Yuli Ismartono, serta fotografer Ijar Karim–di suite eksekutif Laguna, Nusa Dua, Bali.   Berikut ini, petikannya:

Bagaimana agar Bank Dunia berperan makin signifikan dalam mendorong perbaikan ekonomi negara berpenghasilan menengah?

Peran Bank Dunia pada negara berpenghasilan menengah sebetulnya amat relevan dengan kebutuhan negara itu mereformasi ekonominya di level kebijakan dan institusional. Mereka butuh banyak investasi infrastruktur, pendidikan, kesehatan.  Bank Dunia punya banyak pengetahuan untuk menjadi jembatan antarnegara, menjadi fasilitator, berbagi pengetahuan. Reformasi institusi amat dibutuhkan dan ini bukan soal mudah.

Dari pengalaman di Indonesia, apa saja yang diperlukan untuk merawat kelangsungan reformasi birokrasi?

Reformasi tak boleh bergantung pada satu orang atau satu rezim. Ada dua pihak yang harus terus-menerus berjalan bersama:  masyarakat yang menghendaki (reformasi) dan  institusi publik yang mau bertanggung jawab kepada masyarakat.

Mana lebih gampang, menjadi Menteri Keuangan Indonesia atau Managing Director Bank Dunia?

Keduanya memberi tantangan berbeda. Di Indonesia, sebagai Menteri Keuangan, (saya) fokus pada satu negara.  Di Bank Dunia, saya harus mengatur 74 negara.  Satunya lebih in-depth, satunya lebih cross-sectional

Pengalaman menjadi Menteri Keuangan di negara kita, seberapa besar membantu Anda di Bank Dunia?

Banyak sekali! Pengalaman saya sebagai Menteri Keuangan kini dapat saya share secara universal. Sewaktu ke Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia Pasifik, saya bisa berkomunikasi amat baik dan mudah dengan para presiden, perdana menteri, menteri keuangan. Di Kolombia, saya berbagi soal desentralisasi. Di Peru, tentang menciptakan suatu transfer dari resources yang adil. Di Filipina, Presiden Aquino yang baru, hendak meluncurkan reformasi antikorupsi di pajak. Saya bisa bicara pada Menteri Keuangan Filipina dengan jelas, spesifik, dan teknis. Mereka lantas mendapat ide mempercepat reformasi.

Bagaimana dengan isu pencalonan Anda sebagai Presiden RI pada 2014?

Well, I’m having now a very challenging job as a Managing Director of the Bank.  Dan sesungguhnya saya mewakili kita semua sebagai “ambassador of Indonesia”. Jadi, kalau saya malu-maluin, kan yang malu bukan cuma saya. Itu sebabnya saya perlu fokus pada pekerjaan sekarang. Indonesia will be seen as an able person, that we can do the job well. Jadi bukan hanya sekelompok manusia di khatulistiwa yang residual. Saya menjalankan peran ini dengan sepenuh kesadaran, bahwa saya mewakili lebih dari 200 juta warga. Orang tidak akan melihat saya sebagai Sri Mulyani belaka, tapi Sri Mulyani sebagai salah satu contoh Indonesia.  Maka saya perlu fokus dan berkonsentrasi penuh.

Boleh kami tahu apa bagian tersulit hidup di Washington?

Hahaha…, musim dinginnya terlalu panjang, dan terlalu dingin. Tapi ada Bank (Dunia) yang hangat. Mereka menyediakan berbagai tantangan yang sehat bagi saya. Betul bahwa tidak selalu mudah, tapi sungguh memacu adrenalin.

 (versi lengkap wawancara ini silakan baca majalah Tempo edisi Senin 18 April 2011, dan Tempo English Edition,  Rabu, 20 April 2011)

This entry was posted in Wawancara sbg MD World Bank. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s