Denny Indrayana: Di Balik Angket Century

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat rapat dengar pendapat dengan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Gedung Nusantara IV, Senayan, Jakarta, Selasa (27/6). Selain membicarakan anggaran pendapatan daerah, rapat tersebut membahas posisi cadangan devisa yang hingga akhir tahun 2006 diperkirakan meningkat 6,8 miliar dollar AS menjadi 41,5 miliar dollar AS.

Denny Indrayana: Srikandi antikorupsi, yang jelas kontribusi antikorupsinya di Kementerian Keuangan, yang pernah menerima penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award, dengan pergerakan politik, berhasil difitnah menjadi pelaku korupsi.

Oleh Denny Indrayana

Hak Angket DPR kembali menjadi berita utama. Munculnya usulan Angket terkait pajak, menghangatkan kembali suhu politik. Kolom di Banjarmasin Post ini, sebagaimana diniatkan, tidak akan menulis soal angket pajak tersebut. Tetapi akan menceritakan apa yang terjadi di balik berita “Angket Century”. Memang masih terkait soal angket, tetapi membahas persoalan yang telah terjadi, sehingga lebih mudah untuk dilakukan kilas-balik.

Panitia Angket terkait Bank Century telah menyelesaikan tugasnya. Hasil kerja panitia angket telah diketahui publik. Tetapi tidak banyak yang tahu apa sebenarnya yang terjadi dibalik terbentuknya dan bekerjanya panitia angket tersebut.

Apakah soal Century betul persoalan nasional, atau lebih merupakan personal? Dalam satu rapat kabinet, seorang menteri dari partai besar menginfokan, bahwa persoalan Century akan selesai jika Menteri Keuangan kala itu – Sri Mulyani Indrawati – diganti. Tentu saja informasi dari sang menteri itu harus diklarifikasi. Namun, saya mendapatkan masukan yang sama dari berbagai sumber lain, yang mengkonfirmasi bahwa masalah Century pada dasarnya adalah masalah pribadi. Hal mana cukup terkonfirmasi dengan turun drastisnya kegaduhan kasus Century, utamanya setelah Ibu Sri Mulyani berhenti sebagai Menteri Keuangan.

Presiden SBY sendiri bukannya tidak paham soal adanya benturan personal tersebut. Tetapi, karena melihat kapasitas, profesionalitas dan integritas Sri Mulyani, maka meskipun telah ada desakan kuat untuk tidak mengangkat kembali Mbak Ani, Presiden SBY tetap memilihnya kembali selaku Menteri Keuangan. Padahal sejak pertengahan Juni 2009, soal Century sudah mulai diangkat dan diarahkan sebagai serangan kepada Sri Mulyani. Namun, 20 Oktober 2009, Presiden SBY bergeming dan tetap memberikan kepercayaan kepada salah satu Menteri Keuangan terbaik di dunia tersebut.

Maka, tidak sampai satu setengah bulan setelahnya, di awal Desember 2009, lahirlah Panitia Angket terkait Bank Century. Langsung begitu dibentuk, Panitia Angket mendesak agar Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani non-aktif.

Pada tanggal 18 Desember 2009, saya sedang melakukan raker di daerah Anyer, untuk mengevaluasi dan menyusun program kerja Staf Khusus Kepresidenan, ketika Ajudan Presiden SBY menghubungi per telepon. Presiden meminta masukan terkait desakan Panitia Angket agar Wapres dan Menkeu menonaktifkan diri. Presiden rupanya memberikan perhatian serius tentang desakan tersebut. Terbukti, meskipun sedang menghadiri KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, Presiden berencana memberikan keterangan pers menanggapi desakan non-aktif tersebut.

“Denny tolong saya diberi masukan hukum terkait dengan desakan non-aktif Wakil Presiden dan Menteri Keuangan. Koordinasikan pula dengan Wakil Presiden untuk langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan”. Segera saja saya mempelajari peraturan ketatanegaraan dan memberi masukan legal memorandum yang saya kirim melalui email hari itu juga kepada Presiden. Sebelum mengirimkan masukan hukum melalui email, saya melakukan hubungan telepon dengan Wakil Presiden. Kepada Pak Boed, saya menjelaskan pendapat hukum bahwa desakan panitia angket untuk wapres dan menkeu non-aktif, sama sekali tidak mempunyai dasar hukum.

Ini adalah pembelaan kedua Presiden SBY kepada Pak Boed dan Mbak Ani. Maka, tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa Presiden SBY tidak pernah membela dua orang putra-putri terbaik bangsa tersebut. Pembelaan pertama Presiden adalah menyangkut kebijakannya, yaitu ketika pada tanggal 23 November 2009 menjelaskan persoalan Century dan kasus Chandra M. Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Pembelaan kedua presiden adalah pembelaan atas posisi atau jabatan keduanya dengan tidak menyetujui desakan agar keduanya non-aktif tersebut.

Pembelaan Presiden ketiga kalinya, adalah pembelaan pamungkas yang langsung mengarah kepada pribadi Pak Boed dan Mbak Ani. Pada Pidato tanggal 4 Maret 2010, ketika menanggapi hasil Panitia Angket DPR, Presiden SBY dengan jelas dan tegas mengatakan, “Dr. Sri Mulyani Indrawati dan Prof. Dr. Boediono, dua putra bangsa, yang rekam-jejaknya tidak sedikit pun meninggalkan catatan buruk terkait dengan kompetensi, kredibilitas, dan integritas pribadinya”.

Namun, akhirnya sejarah memang mencatat, Mbak Ani berhenti dari Menteri Keuangan. Dalam dalah satu pertemuan di Tampak Siring, Presiden SBY menyampaikan pertimbangan Beliau. Hari itu Istana Tampak Siring masih terang, di ruang tamunya, Presiden menjelaskan “Denny, ini Ibu Ani akan sulit untuk konsentrasi bekerja. Persoalan terkait Century belum selesai, sudah dimunculkan lagi kasus-kasus lain. Mari kita carikan jalan keluar terbaik bagi Menteri Keuangan”. Kala itu saya berpikir, wah Mbak Ani akan berpindah kantor menjadi Gubernur Bank Indonesia. Tak berapa lama setelah saya meninggalkan ruang pertemuan dengan Presiden, Menteri Keuangan Sri Mulyani bergantian menghadap Presiden.

Sekitar setengah jam kemudian, Mbak Ani terlihat meninggalkan ruang pertemuan dengan menggunakan golf car. Saya mengirimkan pesan singkat blackberry messanger, “Bu, akan bergeser kemana?” Pesan itu tidak berjawab. Tentunya karena, Mbak Ani masih menjaga dan menghormati informasi yang beliau punya, sebagai info yang masih tidak layak untuk dibagi kepada orang lain. Tak berapa lama setelah pertemuan Tampak Siring itu, jelaslah bahwa Mbak Ani akhirnya bergeser menjadi Managing Director di World Bank. Hari dimana pengumuman SMI pasti akan meninggalkan tanah air itu adalah salah satu hari yang kelabu. Kita telah kehilangan salah satu putri terbaik, suatu kerugian yang besar.

Tapi, itulah politik. Dengan permainan politik yang canggih, menggunakan sumber daya, sumber dana dan media yang efektif, akhirnya pihak yang menginginkan kepergian Sri Mulyani memenangkan pertarungan. Srikandi antikorupsi, yang jelas kontribusi antikorupsinya di Kementerian Keuangan, yang pernah menerima penghargaan Bung Hatta Anticorruption Award, dengan pergerakan politik, berhasil difitnah menjadi pelaku korupsi. Ironis memang. Tidak heran jika KPK – lembaga negara yang paling kredibel dalam pemberantasan korupsi – tetap berkesimpulan bahwa belum ditemukan bukti yang cukup adanya tindak pidana korupsi yang dilakukan baik oleh Ibu Sri Mulyani ataupun Bapak Boediono.

Melawan mafioso dan koruptor memang tidak pernah mudah. Seringkali pejuang antikorupsi justru kalah. Tetapi, pastilah kita tidak pernah boleh menyerah. Haram manyarah waja sampai kaputing. Doa and do the best. Keep on fighting for the better Indonesia. (*)

Dikutip dari di blog: http://dennyindrayana.blogspot.com/2011/02/dibalik-angket-century-banjarmasin-post.html

Banjarmasin Post 23 Februari 2011.

This entry was posted in Hati Nurani Mereka Bicara SMI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s